Jumat, 24 Desember 2010

Kreasi Batik Keris

Senin, 20/12/2010 | 16:50 WIB

KOMPAS.com - Inilah yang dilakukan Batik Keris, salah satu produsen batik di Indonesia, dengan menggaet perancang Priyo Oktaviano. Melalui sentuhan tangan Priyo, kain batik menjadi busana yang modis, modern, hingga yang tampilannya glamor.

Batik Keris menampilkan karya-karya Priyo dalam acara peresmian butik yang terletak di Mal Discovery, Kuta, Bali, Sabtu (11/12/2010) lalu. Butik ini menjadi salah satu dari 80 toko yang dimiliki Batik Keris di seluruh Indonesia.

Dalam koleksi siap pakai eksklusif, perancang yang dikenal melalui karya-karya tenun ini mengombinasikan beberapa kain dengan motif dan warna berbeda menjadi gaun-gaun dengan model yang sederhana. ”Ini merupakan pembaruan karena baju-baju batik di sini biasanya memakai satu kain,” kata Priyo saat menunjukkan rancangannya sebelum acara peragaan busana.

Gaun yang diperlihatkan Priyo di manekin ini adalah gaun dengan panjang selutut yang dirancang dari tiga kain dengan warna kontras, yaitu biru, merah, dan hijau, yang umumnya bermotif bunga. Batik warna biru dipakai untuk bagian baju dari pinggang ke atas dan warna merah dari pinggang hingga lutut.

Warna hijau digunakan sebagai pemanis di bagian pinggang sehingga terlihat seperti ikat pinggang dan membentuk garis vertikal di bagian bawah gaun. ”Tabrak warna seperti ini sesuai dengan tren 2011,” kata Priyo.

Meski sederhana, Priyo memberi perhatian pada detail, yaitu dengan dengan teknik lipit di pinggang dan bagian bawah gaun. Selain itu, bagian leher diberi aksesori berupa manik-manik dan batu. Di samping memilih warna-warna yang cocok dengan kulit orang Indonesia, yaitu biru, marun, merah muda, dan ungu, Priyo memang mengedepankan kesederhanaan rancangan busana siap pakai yang cocok dipakai ke tempat kerja ini.

”Orang yang memakai baju ini tidak usah berpikir mau dipakai kapan karena baju mudah dipakai dan bisa dipakai kapan saja,” ujar Priyo.

Selain koleksi siap pakai, Priyo juga membuat enam desain dengan menggunakan konsep draperi, yaitu tidak menggunting kain. Koleksi yang juga menggabungkan beberapa kain batik tulis dari sutra ini bergaya lebih etnik, seperti model kebaya bertangan lebar dipadu dengan kain yang dililit di bagian bawah. Direncanakan, desain khusus dari Priyo yang akan diberi label Batik Keris Eksklusif ini akan dijual dalam jumlah terbatas di beberapa butik Batik Keris.

Sebagai karya utamanya, Priyo membuat desain bergaya ball gawn yang dibuat dari 10 kain. Dominique, model yang mengenakan gaun tersebut, tampil dengan dibopong di atas tandu sambil diiringi penari kecak. Walaupun terlihat berat, Dominique mampu memperlihatkan keanggunan gaun tersebut kepada penonton yang ditempatkan di dalam dan di luar butik.

Tampilan modern
Meski punya sejarah panjang, yaitu sekitar 90 tahun, dalam usaha memperkenalkan batik di Indonesia, Batik Keris tak menutup mata terhadap usaha memodernisasi batik. Hal ini dilakukan dengan membuat batik yang semakin berwarna sejak tahun 1990-an untuk menambah variasi batik sogan yang tetap punya penggemar tersendiri.

”Kami harus mengikuti tren supaya bisa menggaet anak-anak muda untuk mengenakan batik,” kata Lina Kusyanto, Komisaris Utama Batik Keris.

Untuk menggaet anak-anak muda tersebut, Batik Keris memang membuat koleksi khusus untuk remaja. Bahannya yang nyaman dipakai, seperti dari katun, memiliki warna-warna cerah, seperti merah muda, merah, dan ungu. Pemakaiannya juga bisa dipadukan dengan celana jins panjang dan pendek, legging, rok pendek, dan sepatu kets.

Saat memperlihatkan baju-baju tersebut pada penonton, para model remaja membawakannya dalam suasana ceria, sambil menari, memakai skateboard, sepeda, bahkan dengan menaiki Vespa.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, tema lain dibuat, seperti koleksi untuk keluarga, yang terdiri atas ayah, ibu, serta anak laki-laki dan perempuan. Ada pula baju kerja, berupa blus dan gaun untuk perempuan, serta kemeja untuk laki-laki yang dibuat dari katun primisima.

Mengenai peresmian butik di Bali, Lina mengatakan, pihaknya menargetkan menggaet pasar turis asing. ”Tak bisa dimungkiri, Bali adalah pintu untuk turis asing yang datang ke Indonesia. Berdasarkan hal itu, kami membuka tempat di sini,” ujar Lina.

Demi menggaet pasar internasional inilah, tampilan modern busana dari kain-kain tradisional Indonesia, termasuk batik, diperlukan.

Sabtu, 07 November 2009

Bisnis Batik Masih Prospektif?

Minggu III, Juni 2008
Booming bisnis batik semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya tahun ini. Pertanda bisnis batik sudah jenuh? Sudah tidak prospektif lagi? Belum tentu :)

Bagi pengusaha batik dengan mindset bisnis yang kreatif, bisnis ini masih sangat prospektif dan akan terus prospektif sepanjang jaman. Seperti misalnya Nila Puspita, pengusaha batik yang selalu berinovasi dalam mengembangkan usahanya.

Menurutnya, pemain di usaha kerajinan batik sudah terlalu banyak. Jadi, kalau tidak terus berinovasi untuk menemukan corak baru, produk batik itu pasti tenggelam. "Harus membuat corak yang sesuai selera konsumen, tapi tetap tidak menyimpang dari pakem batik," ujar pemilik rumah batik Antique di Malang, Jawa Timur, ini.

Dengan menciptakan produk batik lukis timbul, Nila berusaha menjadikan produknya unik dan berbeda dengan batik lainnya. Apalagi, lukisan yang dibuat tidak sekadar wajah pemesan, tetapi bisa lukisan peristiwa atau apa saja sesuai pesanan.

Bukan hanya corak pada batik yang terus berubah sesuai selera konsumen. Bahan baku batik pun terus berganti. Bahan baku batik lukis tidak hanya dari sutra China dan lokal, tetapi juga dari katun, serat nanas, dan serat pisang. Sumber: kompas http://www.dexton.adexindo.com - Dexton Indonesia - Majalah Online untuk Pebisnis Pemula

Batik Djenk Tiwoel’s

Hari Senin, 9 April 2007, mantan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Joop Ave memperkenalkan buku Grand Batik Interiors di Jakarta. Menurut harian Kompas (Nama dan Peristiwa) 12 April 2007 ketertarikan ini bermula sejak beliau ditugaskan sebagai konsul di New York 45 tahun yang lalu. Dengan buku ini beliau ingin mengembangkan manfaat ekonomi lain dari batik, yakni sebagai produk interior. Beliau ingin orang-orang muda yang tampaknya kurang mengapresiasi batik, dapat menyenangi dan mengapresiasi batik.

Batik, menurut Wikipedia berasal dari kata Jawa amba(menulis) dan titik (juga berarti titik dalam bahasa Indonesia). Selain itu ada juga yang mengartikannya sebagai menghamba pada titik. Memang titik merupakan desain dominan pada batik. Di Museum Nasional dapat kita lihat detail motif batik pada penggambaran kain pada patung-patung batu yang berasal dari abad ke 8 (contoh patung patung yang berasal dari candi Prambanan) maupun pada patung-patung yang berasal dari abad ke 13 (Singosari) dan abad ke 14 (Majapahit). Walaupun demikian penulisan pertama tentang pembuatan batik di Jawa berasal dari pencatatan keraton di Jawa Tengah pada abad ke 16 (Aspects of Indonesian Culture).

Teknik dasar batik (dye resistance pattern) menurut info berasal dari Mesir sekitar 1500 tahun yang lalu. Di Museum Nasional terdapat juga kendi China yang dibuat dengan mencoba mempraktekkan teknik membatik ini pada keramik. Tapi percobaan pada kain tampaknya lebih berhasil di Jawa. Dari namanya saja sudah jelas asal tempat yang membesarkan nama batik itu sendiri.

Dengan perkembangan perdagangan kain di Jawa maka masuklah kain dari India pada sekitar tahun 1800 dan dari Eropa pada sekitar tahun 1815. Karena menggunakan kain yang lebih berkualitas maka perkembangan batik Jawa semakin pesat dan semakin terkenal.

Mattiebelle Gittinger yang meneliti tekstil di Indonesia dalam tulisannya di Arts of Asia (September – Oktober 1980) menyebutkan bahwa pemakaian teknik dasar membatik yang menggunakan lilin ini mungkin berasal dari Cina dan India, tapi semua alat membatik dan proses pembatikannya merupakan sesuatu yang khas Jawa. Canting adalah alat penulisan batik yang ditemukan oleh orang Jawa dan menunjukkan kepandaian yang tinggi dari nenek moyang kita.

Bahkan, menurut Gittinger orang Belanda pada abad ke 17 mulai memperdagangkan batik dan pada abad ke 19 mulai menghasilkan tekstil pabrik bermotif batik yang kemudian diperdagangkannya ke Afrika Barat.

Sayangnya hasil artistik yang bernilai tinggi ini menurut para ahli, kurang diperhatikan pemerintah. Bahkan seorang Malaysia menyanjung kepedulian pemerintahnya pada perkembangan batik Malaysia, dengan mengutip harian Jakarta Post yang membahas mengenai perbandingan perkembangan batik Indonesia dengan Malaysia yang sebenarnya menggunakan pekerja dari Indonesia. Kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan batik memang tersorot pada tahun 2005 karena ternyata Malaysia terlebih dahulu mematenkan batik seperti yang tertulis di harian Republika. Memang persoalan paten ini menurut harian Kompas banyak yang tidak tahu, dan cukup sulit memperjuangkan pengakuan hak kekayaan tradisi budaya. Perhatian Malaysia pada hak paten memang lebih tinggi, dan promosi mereka terhadap batik Malaysia cukup besar, seperti yang terlihat pada perangko Malaysia.

Padahal batik sebenarnya mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi. Motif batik Parang Rusak misalnya, sebenarnya termasuk motif batik sakral yang hanya dipergunakan di lingkungan kraton. Demikian juga warna batik pada motif parang bisa menentukan asal kraton pemakainya, apakah dari Kraton Solo atau dari Kraton Jogja.

Selain membawa arti simbolis, mengamati batik juga memperlihatkan kekayaan budaya serapan Indonesia. Di Museum Nasional kita bisa melihat perbedaan antara batik pesisir yang terpengaruhi oleh budaya Cina, budaya Islam, maupun pengaruh pendudukan Belanda yang memang pada waktu itu juga menghasilkan batik Belanda (berasal dari pabrik yang dimiliki oleh orang Belanda di Indonesia).

Jadi bagaimana kita bisa ikut membantu menjaga warisan yang bernilai budaya dan sejarah ini? Beberapa orang sudah memulainya, dalam hal produksi selain pabrik pabrik besar dan kecil, ada juga desainer seperti Iwan Tirta, Harry Dharsono, dan Obin. Sekarang ada Joop Ave yang mengajak anda melihat batik sebagai elemen interior.

dikutip dari: http://www.wikimu.com

sumber =  http://djenktiwoel.wordpress.com/2009/01/05/batik-indonesia-artikel/#more-30

Batik, Warisan Budaya Nan Unik Milik Indonesia

Hari Jumat (02/10) ini merupakan hari yang special karena President Susilo Bambang Yudhoyono telah meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik dalam rangka untuk mendukung keputusan UNESCO yang telah memasukan batik dalam list item "Intangible Cultural Heritage of Humanity".

“Batik merupakan icon budaya yang sangat berharga karena keunikannya. Batik memiliki simbol dan filosofi unik, termasuk alur kehidupan laki-laki, dan batik telah dianggap Indonesia sebagai element non-material dari warisan budaya negara. Kami menyatakan bahwa batik telah diakui sebagai element warisan budaya global yang diproduksi Indonesia. Presiden SBY juga mendorong seluruh warga negara Indonesia untuk mengenakan batik di tanggal 2 Oktober ini, untuk merayakan Hari Batik.“ ungkap Menkokesra, Aburizal Bakrie.

UNESCO (United Nations Education, Scientific and Cultural Organization) telah mendeskripsikan Batik Indonesia dilihat dari sisi teknis, sebagai symbol dan budaya yang terbuat dari bahan kapas dengan celupan hiasan dari canting atau dari bahan sutra. Namun, tidak seperti negara lain, Indonesia sangat bangga atas Batik yang dapat dipakai sebagai pakaian formal untuk acara resmi. Batik sendiri biasanya dibuat dari kain katun atau sutra, yang sangat nyaman untuk dipakai.

Sebelumnya, UNESCO juga telah meresmikan Keris dan Wayang, juga Angklung dan Gamelan menjadi warisan budaya Indonesia. Untuk mendukung Hari Batik, maka pemerintah kota Jakarta memberikan diskon khusus ketika memasuki pusat rekreasi di Jakarta. Pabrik Batik pola tradisional juga ditemukan di beberapa negara seperti Malaysia, Japan, China, India, Sri Lanka, Egypt, Nigeria, Senegal dan Singapura.(h_n)

sumber =

http://www.beritanet.com/Education/Indonesia-Batik.html

Tips Memilih Batik

Sebagai salah satu warisan budaya bangsa, Batik / Baju Batik kini menjadi busana resmi yang kian digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Jenisnya pun bervariasi, mulai Batik tulis yang menggunakan canting hingga Baju Batik motif dengan cetakan mesin (print) turut dijajakan di pasaran. Agar Anda bisa membedakan mana yang sesuai dengan selera Anda, ada baiknya jika mengikuti Tips tentang Batik berikut ini!
Tentukan Jenis Kain Batik, Design Batik yang Anda inginkan.
Jika dilihat dari proses pembuatan Kain Batik ada Batik Tulis dan Batik Print. Batik tulis memiliki motif yang sama pada bagian dalam dan luar pakaian. Sedangkan, Batik print Design Batik lebih terang dibagian luarnya dan agak pudar di bagian dalam pakaian. Untuk memastikannya, Anda bisa menceknya langsung.
Jika dilihat dari bahannya, ada Model Batik lawas yang awalnya digunakan untuk kain gendongan yang sifatnya mudah sobek. Secara penggunaan bahan ini digemari karena adem dan nyaman kala dipakai. Namun secara tekstur, kainnya lebih tebal.
Untuk kategori Model Batik, bahan yg paling baik digunakan biasanya alat tenun bukan mesin (ATBM), biasanya bahan dasar yang digunakan adalah sutera jadi wajar saja jika harganya paling mahal dikelasnya.
Untuk perawatan, Batik berbahan premium salah satunya sutera harus di dryclean agar lebih awet dan terjaga serat kainnya. ;
Sedangkan batik biasa, pencuciannya direndam tanpa sabun. Hal ini bertujuan untuk menjaga warnanya agar tidak cepat pudar.

Selalu beli batik asli Indonesia

sumber =

http://www.blogcatalog.com/blog/aku-cinta-batik/dfe86a56cc9d1dc4ff411000b89e52ff

Tips Memilih Batik

Sebagai salah satu warisan budaya bangsa, Batik / Baju Batik kini menjadi busana resmi yang kian digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Jenisnya pun bervariasi, mulai Batik tulis yang menggunakan canting hingga Baju Batik motif dengan cetakan mesin (print) turut dijajakan di pasaran. Agar Anda bisa membedakan mana yang sesuai dengan selera Anda, ada baiknya jika mengikuti Tips tentang Batik berikut ini!
Tentukan Jenis Kain Batik, Design Batik yang Anda inginkan.
Jika dilihat dari proses pembuatan Kain Batik ada Batik Tulis dan Batik Print. Batik tulis memiliki motif yang sama pada bagian dalam dan luar pakaian. Sedangkan, Batik print Design Batik lebih terang dibagian luarnya dan agak pudar di bagian dalam pakaian. Untuk memastikannya, Anda bisa menceknya langsung.
Jika dilihat dari bahannya, ada Model Batik lawas yang awalnya digunakan untuk kain gendongan yang sifatnya mudah sobek. Secara penggunaan bahan ini digemari karena adem dan nyaman kala dipakai. Namun secara tekstur, kainnya lebih tebal.
Untuk kategori Model Batik, bahan yg paling baik digunakan biasanya alat tenun bukan mesin (ATBM), biasanya bahan dasar yang digunakan adalah sutera jadi wajar saja jika harganya paling mahal dikelasnya.
Untuk perawatan, Batik berbahan premium salah satunya sutera harus di dryclean agar lebih awet dan terjaga serat kainnya. ;
Sedangkan batik biasa, pencuciannya direndam tanpa sabun. Hal ini bertujuan untuk menjaga warnanya agar tidak cepat pudar.

Selalu beli batik asli Indonesia

sumber =

http://www.blogcatalog.com/blog/aku-cinta-batik/dfe86a56cc9d1dc4ff411000b89e52ff

"Batik" - Satu Lagi Budaya Bangsa Yang Diakui Dunia

Menanggapi ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia membuat Kita bangga mempunyai karya yang diakui dunia khususnya dari Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO). UNESCO pada 2 Oktober 2009 mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia.

Sebelumnya karya anak bangsa yang diakui dunia internasional adalah wayang (2003) dan keris (2005) yang ditetapkan UNESCO. Menteri Ad Interim Kebudayaan dan Pariwisata Mohammad Nuh mengatakan, dengan adanya pengukuhan dunia kepada batik Indonesia, tidak perlu lagi ada keraguan dari masyarakat soal kepemilikan batik.

Menurut Nuh, sekitar sejam setelah diumumkan secara resmi oleh UNESCO, rencananya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mendeklarasikan pengukuhan batik tersebut.

Kurator Museum Batik Yogyakarta, Prayoga, mengatakan, penetapan UNESCO perlu disertai dengan pelestarian seni batik, terutama teknik membatik, regenerasi, dan memerhatikan kehidupan para pembatiknya. Selama ini kepedulian kepada batik baru sebatas pada pemakaian busana bermotif mirip batik.

Padahal sebagian besar pakaian tersebut justru tidak dibuat melalui proses batik. ”Pakaian bermotif batik itu sebagian besar adalah hasil printing atau sablon, bukan batik,” ujar Prayoga.

Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat Komarudin Kudiya di Bandung mengatakan, dengan adanya pengakuan UNESCO, kebesaran batik kembali terangkat. ”Ini adalah saat yang tepat untuk kembali mencintai dan melindungi karya batik Indonesia,” kata Komarudin.

Komarudin menyatakan sangat bangga dengan pengakuan UNESCO. Ini menandakan, Indonesia adalah bangsa yang menghargai seni dan budayanya sendiri. Namun, ia mengharapkan semua pihak tidak berpuas diri. Dikatakan, pekerjaan rumah untuk melindungi dan melestarikan batik masih terbentang panjang.


Source : dari berbagai sumber

http://artikel-manajemen.blogspot.com/2009/10/batik-satu-lagi-budaya-bangsa-yang.html