<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256</id><updated>2012-02-16T15:04:53.955-08:00</updated><title type='text'>BATIK</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-2553227029686259580</id><published>2010-12-24T09:39:00.000-08:00</published><updated>2010-12-24T09:40:23.235-08:00</updated><title type='text'>Kreasi Batik Keris</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Lucida Grande', Arial; font-size: 12px; color: rgb(93, 93, 93); line-height: 16px; "&gt;&lt;div class="font11 c_cantik pb_5" style="color: rgb(220, 41, 48); font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande', Arial; line-height: 14px; padding-bottom: 5px; "&gt;Senin, 20/12/2010 | 16:50 WIB&lt;/div&gt;&lt;div id="article_body" class="isi_berita"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Inilah yang dilakukan Batik Keris, salah satu produsen batik di Indonesia, dengan menggaet perancang Priyo Oktaviano. Melalui sentuhan tangan Priyo, kain batik menjadi busana yang modis, modern, hingga yang tampilannya glamor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik Keris menampilkan karya-karya Priyo dalam acara peresmian butik yang terletak di Mal Discovery, Kuta, Bali, Sabtu (11/12/2010) lalu. Butik ini menjadi salah satu dari 80 toko yang dimiliki Batik Keris di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam koleksi siap pakai eksklusif, perancang yang dikenal melalui karya-karya tenun ini mengombinasikan beberapa kain dengan motif dan warna berbeda menjadi gaun-gaun dengan model yang sederhana. ”Ini merupakan pembaruan karena baju-baju batik di sini biasanya memakai satu kain,” kata Priyo saat menunjukkan rancangannya sebelum acara peragaan busana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaun yang diperlihatkan Priyo di manekin ini adalah gaun dengan panjang selutut yang dirancang dari tiga kain dengan warna kontras, yaitu biru, merah, dan hijau, yang umumnya bermotif bunga. Batik warna biru dipakai untuk bagian baju dari pinggang ke atas dan warna merah dari pinggang hingga lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna hijau digunakan sebagai pemanis di bagian pinggang sehingga terlihat seperti ikat pinggang dan membentuk garis vertikal di bagian bawah gaun. ”Tabrak warna seperti ini sesuai dengan tren 2011,” kata Priyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sederhana, Priyo memberi perhatian pada detail, yaitu dengan dengan teknik lipit di pinggang dan bagian bawah gaun. Selain itu, bagian leher diberi aksesori berupa manik-manik dan batu. Di samping memilih warna-warna yang cocok dengan kulit orang Indonesia, yaitu biru, marun, merah muda, dan ungu, Priyo memang mengedepankan kesederhanaan rancangan busana siap pakai yang cocok dipakai ke tempat kerja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orang yang memakai baju ini tidak usah berpikir mau dipakai kapan karena baju mudah dipakai dan bisa dipakai kapan saja,” ujar Priyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain koleksi siap pakai, Priyo juga membuat enam desain dengan menggunakan konsep draperi, yaitu tidak menggunting kain. Koleksi yang juga menggabungkan beberapa kain batik tulis dari sutra ini bergaya lebih etnik, seperti model kebaya bertangan lebar dipadu dengan kain yang dililit di bagian bawah. Direncanakan, desain khusus dari Priyo yang akan diberi label Batik Keris Eksklusif ini akan dijual dalam jumlah terbatas di beberapa butik Batik Keris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai karya utamanya, Priyo membuat desain bergaya &lt;em&gt;ball gawn&lt;/em&gt; yang dibuat dari 10 kain. Dominique, model yang mengenakan gaun tersebut, tampil dengan dibopong di atas tandu sambil diiringi penari kecak. Walaupun terlihat berat, Dominique mampu memperlihatkan keanggunan gaun tersebut kepada penonton yang ditempatkan di dalam dan di luar butik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tampilan modern&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meski punya sejarah panjang, yaitu sekitar 90 tahun, dalam usaha memperkenalkan batik di Indonesia, Batik Keris tak menutup mata terhadap usaha memodernisasi batik. Hal ini dilakukan dengan membuat batik yang semakin berwarna sejak tahun 1990-an untuk menambah variasi batik sogan yang tetap punya penggemar tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami harus mengikuti tren supaya bisa menggaet anak-anak muda untuk mengenakan batik,” kata Lina Kusyanto, Komisaris Utama Batik Keris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggaet anak-anak muda tersebut, Batik Keris memang membuat koleksi khusus untuk remaja. Bahannya yang nyaman dipakai, seperti dari katun, memiliki warna-warna cerah, seperti merah muda, merah, dan ungu. Pemakaiannya juga bisa dipadukan dengan celana jins panjang dan pendek, legging, rok pendek, dan sepatu kets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memperlihatkan baju-baju tersebut pada penonton, para model remaja membawakannya dalam suasana ceria, sambil menari, memakai skateboard, sepeda, bahkan dengan menaiki Vespa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhan pasar, tema lain dibuat, seperti koleksi untuk keluarga, yang terdiri atas ayah, ibu, serta anak laki-laki dan perempuan. Ada pula baju kerja, berupa blus dan gaun untuk perempuan, serta kemeja untuk laki-laki yang dibuat dari katun primisima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai peresmian butik di Bali, Lina mengatakan, pihaknya menargetkan menggaet pasar turis asing. ”Tak bisa dimungkiri, Bali adalah pintu untuk turis asing yang datang ke Indonesia. Berdasarkan hal itu, kami membuka tempat di sini,” ujar Lina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menggaet pasar internasional inilah, tampilan modern busana dari kain-kain tradisional Indonesia, termasuk batik, diperlukan.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-2553227029686259580?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/2553227029686259580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2010/12/kreasi-batik-keris.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/2553227029686259580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/2553227029686259580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2010/12/kreasi-batik-keris.html' title='Kreasi Batik Keris'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-1026107595217426532</id><published>2009-11-07T10:56:00.001-08:00</published><updated>2009-11-07T10:56:44.303-08:00</updated><title type='text'>Bisnis Batik Masih Prospektif?</title><content type='html'>Minggu III, Juni 2008&lt;br /&gt;Booming bisnis batik semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya tahun ini. Pertanda bisnis batik sudah jenuh? Sudah tidak prospektif lagi? Belum tentu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengusaha batik dengan mindset bisnis yang kreatif, bisnis ini masih sangat prospektif dan akan terus prospektif sepanjang jaman. Seperti misalnya Nila Puspita, pengusaha batik yang selalu berinovasi dalam mengembangkan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pemain di usaha kerajinan batik sudah terlalu banyak. Jadi, kalau tidak terus berinovasi untuk menemukan corak baru, produk batik itu pasti tenggelam. "Harus membuat corak yang sesuai selera konsumen, tapi tetap tidak menyimpang dari pakem batik," ujar pemilik rumah batik Antique di Malang, Jawa Timur, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menciptakan produk batik lukis timbul, Nila berusaha menjadikan produknya unik dan berbeda dengan batik lainnya. Apalagi, lukisan yang dibuat tidak sekadar wajah pemesan, tetapi bisa lukisan peristiwa atau apa saja sesuai pesanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya corak pada batik yang terus berubah sesuai selera konsumen. Bahan baku batik pun terus berganti. Bahan baku batik lukis tidak hanya dari sutra China dan lokal, tetapi juga dari katun, serat nanas, dan serat pisang. Sumber: kompas  http://www.dexton.adexindo.com - Dexton Indonesia - Majalah Online untuk Pebisnis Pemula&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-1026107595217426532?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/1026107595217426532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/bisnis-batik-masih-prospektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1026107595217426532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1026107595217426532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/bisnis-batik-masih-prospektif.html' title='Bisnis Batik Masih Prospektif?'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-6239568388572097599</id><published>2009-11-07T10:52:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:54:46.171-08:00</updated><title type='text'>Batik Djenk Tiwoel’s</title><content type='html'>Hari Senin, 9 April 2007, mantan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Joop Ave memperkenalkan buku Grand Batik Interiors di Jakarta. Menurut harian Kompas (Nama dan Peristiwa) 12 April 2007 ketertarikan ini bermula sejak beliau ditugaskan sebagai konsul di New York 45 tahun yang lalu. Dengan buku ini beliau ingin mengembangkan manfaat ekonomi lain dari batik, yakni sebagai produk interior. Beliau ingin orang-orang muda yang tampaknya kurang mengapresiasi batik, dapat menyenangi dan mengapresiasi batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik, menurut Wikipedia berasal dari kata Jawa amba(menulis) dan titik (juga berarti titik dalam bahasa Indonesia). Selain itu ada juga yang mengartikannya sebagai menghamba pada titik. Memang titik merupakan desain dominan pada batik. Di Museum Nasional dapat kita lihat detail motif batik pada penggambaran kain pada patung-patung batu yang berasal dari abad ke 8 (contoh patung patung  yang berasal dari candi Prambanan) maupun pada patung-patung yang berasal dari abad ke 13 (Singosari) dan abad ke 14 (Majapahit). Walaupun demikian penulisan pertama tentang pembuatan batik di Jawa berasal dari pencatatan keraton di Jawa Tengah pada abad ke 16 (Aspects of Indonesian Culture).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik dasar batik (dye resistance pattern) menurut info berasal dari Mesir sekitar 1500 tahun yang lalu. Di Museum Nasional terdapat juga kendi China yang dibuat dengan mencoba mempraktekkan teknik membatik ini pada keramik. Tapi percobaan pada kain tampaknya lebih berhasil di Jawa. Dari namanya saja sudah jelas asal tempat yang membesarkan nama batik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkembangan perdagangan kain di Jawa maka masuklah kain dari India pada sekitar tahun 1800 dan dari Eropa pada sekitar tahun 1815. Karena menggunakan kain yang lebih berkualitas maka perkembangan batik Jawa semakin pesat dan semakin terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mattiebelle Gittinger yang meneliti tekstil di Indonesia dalam tulisannya di Arts of Asia (September – Oktober 1980) menyebutkan bahwa pemakaian teknik dasar membatik yang menggunakan lilin ini mungkin berasal dari Cina dan India, tapi semua alat membatik dan proses pembatikannya merupakan sesuatu yang khas Jawa. Canting adalah alat penulisan batik yang ditemukan oleh orang Jawa dan menunjukkan kepandaian yang tinggi dari nenek moyang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut Gittinger orang Belanda pada abad ke 17 mulai memperdagangkan batik dan pada abad ke 19 mulai menghasilkan tekstil pabrik bermotif batik yang kemudian diperdagangkannya ke Afrika Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hasil artistik yang bernilai tinggi ini menurut para ahli, kurang diperhatikan pemerintah. Bahkan seorang Malaysia menyanjung kepedulian pemerintahnya pada perkembangan batik Malaysia, dengan mengutip harian Jakarta Post yang membahas mengenai perbandingan perkembangan batik Indonesia dengan Malaysia yang sebenarnya menggunakan pekerja dari Indonesia. Kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan batik memang tersorot pada tahun 2005 karena ternyata Malaysia terlebih dahulu mematenkan batik seperti yang tertulis di harian Republika. Memang persoalan paten ini menurut harian Kompas banyak yang tidak tahu, dan cukup sulit memperjuangkan pengakuan hak kekayaan tradisi budaya. Perhatian Malaysia pada hak paten memang lebih tinggi, dan promosi mereka terhadap batik Malaysia cukup besar, seperti yang terlihat pada perangko Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal batik sebenarnya mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi. Motif batik Parang Rusak misalnya, sebenarnya termasuk motif batik sakral yang hanya dipergunakan di lingkungan kraton. Demikian juga warna batik pada motif parang bisa menentukan asal kraton pemakainya, apakah dari Kraton Solo atau dari Kraton Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membawa arti simbolis, mengamati batik juga memperlihatkan kekayaan budaya serapan Indonesia. Di Museum Nasional kita bisa melihat perbedaan antara batik pesisir yang terpengaruhi oleh budaya Cina, budaya Islam, maupun pengaruh pendudukan Belanda yang memang pada waktu itu juga menghasilkan batik Belanda (berasal dari pabrik yang dimiliki oleh orang Belanda di Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana kita bisa ikut membantu menjaga warisan yang bernilai budaya dan sejarah ini? Beberapa orang sudah memulainya, dalam hal produksi selain pabrik pabrik besar dan kecil, ada juga desainer seperti Iwan Tirta, Harry Dharsono, dan Obin. Sekarang ada Joop Ave yang mengajak anda melihat batik sebagai elemen interior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;dikutip dari: http://www.wikimu.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber =  http://djenktiwoel.wordpress.com/2009/01/05/batik-indonesia-artikel/#more-30&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-6239568388572097599?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/6239568388572097599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-djenk-tiwoels.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6239568388572097599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6239568388572097599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-djenk-tiwoels.html' title='Batik Djenk Tiwoel’s'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-5894476080721862198</id><published>2009-11-07T10:50:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:51:46.679-08:00</updated><title type='text'>Batik, Warisan Budaya Nan Unik Milik Indonesia</title><content type='html'>Hari Jumat (02/10) ini merupakan hari yang special karena President Susilo Bambang Yudhoyono telah meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik dalam rangka untuk mendukung keputusan UNESCO yang telah memasukan batik dalam list item "Intangible Cultural Heritage of Humanity".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batik merupakan icon budaya yang sangat berharga karena keunikannya. Batik memiliki simbol dan filosofi unik, termasuk alur kehidupan laki-laki, dan batik telah dianggap Indonesia sebagai element non-material dari warisan budaya negara. Kami menyatakan bahwa batik telah diakui sebagai element warisan budaya global yang diproduksi Indonesia. Presiden SBY juga mendorong seluruh warga negara Indonesia untuk mengenakan batik di tanggal 2 Oktober ini, untuk merayakan Hari Batik.“ ungkap Menkokesra, Aburizal Bakrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNESCO (United Nations Education, Scientific and Cultural Organization) telah mendeskripsikan Batik Indonesia dilihat dari sisi teknis, sebagai symbol dan budaya yang terbuat dari bahan kapas dengan celupan hiasan dari canting atau dari bahan sutra.  Namun, tidak seperti negara lain, Indonesia sangat bangga atas Batik yang dapat dipakai sebagai pakaian formal untuk acara resmi. Batik sendiri biasanya dibuat dari kain katun atau sutra, yang sangat nyaman untuk dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, UNESCO juga telah meresmikan Keris dan Wayang, juga Angklung dan Gamelan menjadi warisan budaya Indonesia. Untuk mendukung Hari Batik, maka pemerintah kota Jakarta memberikan diskon khusus ketika memasuki pusat rekreasi di Jakarta. Pabrik Batik pola tradisional juga ditemukan di beberapa negara seperti Malaysia, Japan, China, India, Sri Lanka, Egypt, Nigeria, Senegal dan Singapura.(h_n)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber =&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.beritanet.com/Education/Indonesia-Batik.html&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-5894476080721862198?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/5894476080721862198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-warisan-budaya-nan-unik-milik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5894476080721862198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5894476080721862198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-warisan-budaya-nan-unik-milik.html' title='Batik, Warisan Budaya Nan Unik Milik Indonesia'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-1796203024956701502</id><published>2009-11-07T10:40:00.001-08:00</published><updated>2009-11-07T10:49:32.670-08:00</updated><title type='text'>Tips Memilih Batik</title><content type='html'>Sebagai salah satu warisan budaya bangsa, Batik / Baju Batik kini menjadi busana resmi yang kian digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Jenisnya pun bervariasi, mulai Batik tulis yang menggunakan canting hingga Baju Batik motif dengan cetakan mesin (print) turut dijajakan di pasaran. Agar Anda bisa membedakan mana yang sesuai dengan selera Anda, ada baiknya jika mengikuti Tips tentang Batik berikut ini!&lt;br /&gt;Tentukan Jenis Kain Batik, Design Batik yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;Jika dilihat dari proses pembuatan Kain Batik ada Batik Tulis dan Batik Print. Batik tulis memiliki motif yang sama pada bagian dalam dan luar pakaian. Sedangkan, Batik print Design Batik lebih terang dibagian luarnya dan agak pudar di bagian dalam pakaian. Untuk memastikannya, Anda bisa menceknya langsung.&lt;br /&gt;Jika dilihat dari bahannya, ada Model Batik lawas yang awalnya digunakan untuk kain gendongan yang sifatnya mudah sobek. Secara penggunaan bahan ini digemari karena adem dan nyaman kala dipakai. Namun secara tekstur, kainnya lebih tebal.&lt;br /&gt;Untuk kategori Model Batik, bahan yg paling baik digunakan biasanya alat tenun bukan mesin (ATBM), biasanya bahan dasar yang digunakan adalah sutera jadi wajar saja jika harganya paling mahal dikelasnya.&lt;br /&gt;Untuk perawatan, Batik berbahan premium salah satunya sutera harus di dryclean agar lebih awet dan terjaga serat kainnya. ;&lt;br /&gt;Sedangkan batik biasa, pencuciannya direndam tanpa sabun. Hal ini bertujuan untuk menjaga warnanya agar tidak cepat pudar.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selalu beli batik asli Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber =&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.blogcatalog.com/blog/aku-cinta-batik/dfe86a56cc9d1dc4ff411000b89e52ff&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-1796203024956701502?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/1796203024956701502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/tips-memilih-batik_07.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1796203024956701502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1796203024956701502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/tips-memilih-batik_07.html' title='Tips Memilih Batik'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-4559309388459867357</id><published>2009-11-07T10:40:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:45:42.875-08:00</updated><title type='text'>Tips Memilih Batik</title><content type='html'>Sebagai salah satu warisan budaya bangsa, Batik / Baju Batik kini menjadi busana resmi yang kian digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Jenisnya pun bervariasi, mulai Batik tulis yang menggunakan canting hingga Baju Batik motif dengan cetakan mesin (print) turut dijajakan di pasaran. Agar Anda bisa membedakan mana yang sesuai dengan selera Anda, ada baiknya jika mengikuti Tips tentang Batik berikut ini!&lt;br /&gt;Tentukan Jenis Kain Batik, Design Batik yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;Jika dilihat dari proses pembuatan Kain Batik ada Batik Tulis dan Batik Print. Batik tulis memiliki motif yang sama pada bagian dalam dan luar pakaian. Sedangkan, Batik print Design Batik lebih terang dibagian luarnya dan agak pudar di bagian dalam pakaian. Untuk memastikannya, Anda bisa menceknya langsung.&lt;br /&gt;Jika dilihat dari bahannya, ada Model Batik lawas yang awalnya digunakan untuk kain gendongan yang sifatnya mudah sobek. Secara penggunaan bahan ini digemari karena adem dan nyaman kala dipakai. Namun secara tekstur, kainnya lebih tebal.&lt;br /&gt;Untuk kategori Model Batik, bahan yg paling baik digunakan biasanya alat tenun bukan mesin (ATBM), biasanya bahan dasar yang digunakan adalah sutera jadi wajar saja jika harganya paling mahal dikelasnya.&lt;br /&gt;Untuk perawatan, Batik berbahan premium salah satunya sutera harus di dryclean agar lebih awet dan terjaga serat kainnya. ;&lt;br /&gt;Sedangkan batik biasa, pencuciannya direndam tanpa sabun. Hal ini bertujuan untuk menjaga warnanya agar tidak cepat pudar.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selalu beli batik asli Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber =&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.blogcatalog.com/blog/aku-cinta-batik/dfe86a56cc9d1dc4ff411000b89e52ff&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-4559309388459867357?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/4559309388459867357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/tips-memilih-batik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4559309388459867357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4559309388459867357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/tips-memilih-batik.html' title='Tips Memilih Batik'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-4109359374917932237</id><published>2009-11-07T10:38:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:39:55.074-08:00</updated><title type='text'>"Batik" - Satu Lagi Budaya Bangsa Yang Diakui Dunia</title><content type='html'>Menanggapi ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia membuat Kita bangga mempunyai karya yang diakui dunia khususnya dari Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO). UNESCO pada 2 Oktober 2009 mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya karya anak bangsa yang diakui dunia internasional adalah wayang (2003) dan keris (2005) yang ditetapkan UNESCO. Menteri Ad Interim Kebudayaan dan Pariwisata Mohammad Nuh mengatakan, dengan adanya pengukuhan dunia kepada batik Indonesia, tidak perlu lagi ada keraguan dari masyarakat soal kepemilikan batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nuh, sekitar sejam setelah diumumkan secara resmi oleh UNESCO, rencananya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mendeklarasikan pengukuhan batik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurator Museum Batik Yogyakarta, Prayoga, mengatakan, penetapan UNESCO perlu disertai dengan pelestarian seni batik, terutama teknik membatik, regenerasi, dan memerhatikan kehidupan para pembatiknya. Selama ini kepedulian kepada batik baru sebatas pada pemakaian busana bermotif mirip batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebagian besar pakaian tersebut justru tidak dibuat melalui proses batik. ”Pakaian bermotif batik itu sebagian besar adalah hasil printing atau sablon, bukan batik,” ujar Prayoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat Komarudin Kudiya di Bandung mengatakan, dengan adanya pengakuan UNESCO, kebesaran batik kembali terangkat. ”Ini adalah saat yang tepat untuk kembali mencintai dan melindungi karya batik Indonesia,” kata Komarudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komarudin menyatakan sangat bangga dengan pengakuan UNESCO. Ini menandakan, Indonesia adalah bangsa yang menghargai seni dan budayanya sendiri. Namun, ia mengharapkan semua pihak tidak berpuas diri. Dikatakan, pekerjaan rumah untuk melindungi dan melestarikan batik masih terbentang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Source : dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://artikel-manajemen.blogspot.com/2009/10/batik-satu-lagi-budaya-bangsa-yang.html&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-4109359374917932237?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/4109359374917932237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-satu-lagi-budaya-bangsa-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4109359374917932237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4109359374917932237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-satu-lagi-budaya-bangsa-yang.html' title='&quot;Batik&quot; - Satu Lagi Budaya Bangsa Yang Diakui Dunia'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-564623798889858203</id><published>2009-11-07T10:37:00.001-08:00</published><updated>2009-11-07T10:37:52.154-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Katun Primisima adalah suatu istilah yang dipakai dalam bidang batik untuk menentukan kualitas suatu bahan/kain batik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik Diana lebih sering menggunakan katun primisima karena mengutamakan kualitas dan kepuasan pelanggan. Hal ini dikarenakan sifat katun primisima yang lebih baik, bagus, dan lebih mudah perawatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas yang lebih baik dan lebih bagus bisa dilihat dari ketebalan bahannya dan daya serap keringatnya, jadi katun primisima yang biasa kami gunakan itu bahannya tebal namun tetap nyaman dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Untuk perawatan yang lebih mudah itu maksudnya adalah batik yang dicetak di atas katun primisima tidak luntur dan tidak menciut/mengecil setelah pencucian. Jadi, untuk merawat pakaian dari Batik Diana sama mudahnya dengan merawat pakaian/kaos biasa tanpa perlu khawatir luntur dan mengecil.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber = http://batikdiana.com/apa-itu-katun-primisima/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-564623798889858203?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/564623798889858203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/katun-primisima-adalah-suatu-istilah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/564623798889858203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/564623798889858203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/katun-primisima-adalah-suatu-istilah.html' title=''/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-7079213052193076876</id><published>2009-11-07T10:34:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:35:23.945-08:00</updated><title type='text'>Iwan Tirta - Pelestari Batik Asli Indonesia</title><content type='html'>ika beberapa waktu lalu kita merasa tidak nyaman dengan pengakuan negara tetangga kita, Malaysia, atas kepemilikan budaya asli kita. Maka, yang pantas kita tanyai sebenarnya adalah diri kita sendiri. Sudah seberapa cintakah kita pada produk asli negeri ini. Batik misalnya. Hal ini diungkap oleh seorang desainer dan pelestari seni batik asli Indonesia, Iwan Tirta. Perancang busana batik yang karyanya sudah dipakai oleh banyak petinggi dunia ini mengatakan bahwa sebenarnya justru kitalah yang kurang maksimal dalam mengenalkan seni batik ini ke dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Tirta yang bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja ini memang tak asal bicara. Pengusaha dan perancang busana batik nasional ini menemukan fakta bahwa kita kurang maksimal dalam mempromosikan produk kita sendiri. "Sekarang Malaysia ke mana-mana mengaku batik sebagai milik mereka. Itu karena kita tidak punya kemampuan public relations," kata penerima Anugerah Kebudayaan 2004 kategori individu peduli tradisi ini. Karena itu, pria yang sebenarnya justru mendalami bidang hukum-Iwan adalah lulusan sekolah Hukum di Yale University Amerika-ini kemudian justru memilih batik sebagai jalan hidupnya. Keprihatinannya yang mendalam membuat ia lantas melakukan penelitian seni batik nusantara dan lantas mendirikan perusahaan batik PT Ramacraft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ketika kecil, Iwan malah bercita-cita menjadi diplomat. Karena itulah ia mengambil sekolah di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, dan lulus pada 1958. Ia pun kemudian sempat menjadi dosen bidang Hukum Internasional. Untuk memperdalam ilmunya, Iwan lantas menempuh pendidikan ke London di School of Economics and School of Oriental and African Studies. Merasa belum cukup, ia kemudian mengambil gelar Master ke salah satu universitas terbaik dunia, Yale University di Connecticut, Amerika. Saat itulah, ia sering mendapat pertanyaan tentang budaya Indonesia yang kemudian membuat Iwan makin tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, demi mengetahui ragam kekayaan budaya Indonesia, ia makin mencintai budaya tanah leluhur. Hal ini diperkuat saat ia menerima hibah dana dari John D Rockefeller III untuk mempelajari tarian keraton Kesunanan Surakarta. Di sanalah Iwan memutuskan mendalami batik dan bertekad mendokumentasi serta melestarikan batik. Hasil penelitiannya ia simpulkan dalam bukunya yang pertama, Batik, Patterns and Motifs pada tahun 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinannya akan budaya batik yang justru makin tergerus oleh mode dari luar, membuat Iwan kemudian bertekad untuk mengenalkan batik ke dunia internasional. Dengan bendera PT Ramacraft-nya, ia berhasil melebarkan cabang perusahaannya ke beberapa kota, dengan produksi sekitar 3.000 meter per bulan. ''Batik tulis memang tidak dapat diproduksi secara besar- besaran, karena membutuhkan tenaga dan kehalusan cita rasa,'' katanya. Selain itu, ia memproduksi berbagai macam barang souvenir khas dengan motif batik yang telah dijual hingga ke manca negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan seni dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan dari Timur dan Barat, membuat Iwan Tirta mampu membawa batik menjadi busana yang diterima bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Tiga puluh tahun kemudian, pemahaman dan pengalamannya tentang batik yang semakin matang ia tuangkan dalam bukunya Batik, A Play of Light and Shades (1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Iwan mengenalkan batik asli Indonesia ke luar negeri juga mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Bahkan, hampir semua pejabat tinggi negara di dunia yang datang ke Indonesia, sudah pernah mengenakan rancangan batik Iwan. Kini, dengan usaha keras, meski tak sempat jadi diplomat seperti impian masa kecilnya, Iwan justru telah mampu mengharumkan nama bangsa sebagai ''duta batik'' Indonesia ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kecintaan pada budaya asli Indonesia terbukti telah menjadi jalan sukses Iwan Tirta. Tak hanya itu, ia juga berhasil mengharumkan nama bangsa dengan berbagai rancangan batik karyanya. Iwan menjadi contoh bahwa hanya dengan tindakan nyata, kita bisa "bicara" di dunia internasional. Karena itu, daripada hanya sekadar mengutuk atau merasa resah terhadap klaim bangsa lain atas produk bangsa, akan jauh lebih baik jika kita mampu bertindak nyata, seperti yang dicontohkan Iwan Tirta&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber = http://www.andriewongso.com/awartikel-989-Success_Story-Iwan_Tirta_-_Pelestari_Batik_Asli_Indonesia&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-7079213052193076876?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/7079213052193076876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/iwan-tirta-pelestari-batik-asli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/7079213052193076876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/7079213052193076876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/iwan-tirta-pelestari-batik-asli.html' title='Iwan Tirta - Pelestari Batik Asli Indonesia'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-5067333909524640825</id><published>2009-11-07T10:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:33:00.120-08:00</updated><title type='text'>Artikel Seputar Batik dan Kesenian Tradisional Lainnya</title><content type='html'>Beberapa saat yang lalu saya sempat menulis status di FB dan quick note di MP sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa % gnerasi muda yg mrasa trendi mngenakan batik? Yg kenal gamelan, wayang, keroncong, angklung? Yg bercita2 menjadi pemain reog ato penari pendhet? Dan berapa % generasi muda yg tiba2 marah saat semua diklaim orang krn ditelantarkan pemiliknya? Yo.. mari cintai dan kembangkan budaya kita sendiri. Agar tak lagi diklaim tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari status tersebut muncul berbagai tanggapan seputar apa dan bagaimana batik dan kesenian tradisional lainnya menghadapi modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubungan bahasan tentang hal tersebut cukup panjang, maka saya menulis artikel yang membahas seputar batik, serta tantangan kesenian tradisional pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Artikel tersebut bisa di baca di kolom Budaya SKH Kedaulatan Rakyat yang akan turun hari minggi tanggal 11 Oktober 2009.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber =&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://doniriwayanto.multiply.com/journal/item/189/Artikel_Doni_Riwayanto_Seputar_Batik_dan_Kesenian_Tradisional_Lainnya&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-5067333909524640825?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/5067333909524640825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/artikel-seputar-batik-dan-kesenian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5067333909524640825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5067333909524640825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/artikel-seputar-batik-dan-kesenian.html' title='Artikel Seputar Batik dan Kesenian Tradisional Lainnya'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-3175706048769681254</id><published>2009-11-07T10:25:00.001-08:00</published><updated>2009-11-07T10:28:55.409-08:00</updated><title type='text'>Kerajinan - Batik Pesisir - Pekalongan</title><content type='html'>Batik Pesisir adalah salah satu motif batik tulis khas Pekalongan yang telah dikembangkan dan mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan dan permintaan konsumen. Pengrajin Batik Pesisir terkonsentrasi didesa Kemplong, Wiradesa, tepatnya belok kanan (dari arah Jakarta) dipersimpangan Wiradesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembuatan Batik Pesisir bervariasi, berkisar antara 1 sampai 6 bulan, tergantung pada tingkat kesulitan dan kompleksnya komposisi warna. Hargapun bervariasi antara Rp 1 juta sampai Rp 6 Juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kebaikan sdr Taufik Hidayat, Koordinator Pemasaran batik dari Toko/Butik Batik “Failasuf”, saya mengunjungi sentra pengrajin Batik Pesisir didesa-Kemplong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembuatan batik dimulai dengan bahan baku. Bahan baku yang dipergunakan untuk membuat Batik Pesisir ada 2, yaitu: Mori Katun - Rayon (Polyester) - Sutra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan baku ini dicuci dengan memasukkan bahan-bahan tersebut kedalam tungku air panas, untuk menghilangkan bahan-bahan kimia (auxillaries) yang dipergunakan oleh pabrik pembuat bahan tersebut.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah proses ini dilakukan pengeringan dan pelurusan, bahan ini dikirim kebagian pola, untuk digambarkan pola/designnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diberikan pola/design sesuai dengan rencana produksi, maka bahan Batik Pesisir yang telah berdesign itu dikirimkan kebagian pengrajin batik tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembuatan batik memang rumit, dengan beberapa kali proses pewarnaan pola/design, dimana setiap pemberian warna tertentu, bagian lainnya harus ditutup dengan wax (malam) supaya tidak terwarnai. Proses pewarnaan ini bisa sampai sepuluh kali, bahkan lebih, sesuai dengan tingkat kesulitan maupun pola/design warnanya.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dapat dilihat pada gambar diatas, proses pewarnaan dan cara memegang “canting” yang bervariasi, sebagaimana setiap orang berbeda dalam hal menulis dengan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Proses canting ini juga unik, dimana setiap memulai “penulisan” pada pola/design dengan menggunakan wax (malam), ujung canting harus ditiup untuk mendorong “buble” udara yang bisa memblok alur/jalannya wax melalui ujung canting tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber = http://navigasi.net/goart.php?a=krbtkpkl&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Disamping design yang tradisional, batik Pesisir mempunyai beberapa design yang disukai sejak dulu, yaitu design Belanda, Cina dan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengrajin mendapatkan penghasilan rata-rata sebesar Rp 9.000.- per hari dan banyak diantara mereka yang “drop-out” SMP. Meski demikian, mereka nampaknya gembira dan senyum selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Tuhan itu Maha Adil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-3175706048769681254?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/3175706048769681254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/kerajinan-batik-pesisir-pekalongan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/3175706048769681254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/3175706048769681254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/kerajinan-batik-pesisir-pekalongan.html' title='Kerajinan - Batik Pesisir - Pekalongan'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-8378312370799779757</id><published>2009-11-07T10:24:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:25:19.109-08:00</updated><title type='text'>Pesona Batik Tulis: Ketika Nilai Etnis, Tradisi, dan Modern Berpadu</title><content type='html'>Apa yang terlintas di benak anda jika menyebut batik tulis? Boleh jadi, imajinasi anda akan langsung mengembara kepada lembaran kain tradisional Jawa dan Bali yang lumrah dikenakan ibu-ibu berusia lanjut sebagai ‘’seragam” kebesaran harian. Khususnya, kain penutup tubuh dari bagian pinggang hingga ke mata kaki. Bagi perempuan etnis Jawa dan Bali, batik tulis menciptakan nuansa rasa tersendiri. Di samping sudah melegenda, motif-motif kain tempo doeloe yang eksistensinya belum tergoyahkan sampai saat ini menyimpan banyak makna historis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di era kekinian ini, fungsi batik tidak lagi hanya sebatas piranti pembungkus tubuh perempuan bagian bawah yang lumrah disebut kamben. Dalam dunia fashion, batik mulai dipergunakan sebagai bahan baku rancangan sejumlah desainer papan atas untuk mencitrakan kesan klasik, anggun sekaligus berwibawa. Ragam motifnya pun tidak lagi berkutat pada hal-hal yang berbau etnis-tradisional nan saklek. Tetapi, sudah pasti mendapatkan sentuhan-sentuhan modern sehingga pesona batik sanggup membius penikmat fashion mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik kini tidak lagi hanya berkutat di tanah leluhurnya sendiri. Namun, hasil perpaduan harmonis antara nilai-nilai etnis-tradisional dengan modern itu pun menjelma jadi karya seni tingkat tinggi yang mampu memuaskan selera masyarakat internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, kesuksesan batik — terutama batik tulis –menerobos ketatnya persaingan industri fashion tingkat dunia itu yang mengilhami Desak Putu Nithi (50) menyandarkan sumber penghidupan keluarganya dari batik. Di bawah ”bendera” Nithi’s Collection yang ber-home base di Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Ubud, istri Dewa Nyoman Rai ini intensif menggeluti bisnis batik tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, ibu dua orang putra dan seorang putri ini hanya memproduksi batik tulis untuk bahan baku pakaian (garmen). Namun perkembangan selanjutnya, ibu yang masih terlihat enerjik di usianya yang memasuki separo baya ini memberanikan diri melebarkan sayap bisnisnya ke industri aksesori dan pelengkap interior rumah seperti bedcover, sarung bantal, gorden, taplak meja, pembungkus sandaran dan dudukan kursi/sofa hingga wall hanging (hiasan dinding-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saat ini pihaknya mendapat order dari mitra bisnisnya di luar negeri untuk menggarap piranti penutup sekaligus penghias pilar dan langit-langit rumah serta penutup lampu hias dalam jumlah besar. Tentu saja, semua piranti itu menggunakan batik tulis sebagai bahan baku utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pesona kain batik tulis ini bukan hanya pantas dijadikan bahan baku fashion semata. Kalau kita mau berkreasi dan berinovasi, fungsi batik tulis bisa dikembangkan terus. Ragam motifnya yang bervariasi dan indah-indah juga bisa dijadikan benda pajangan ataupun beragam jenis penghias interior rumah,” kata Desak Putu Nithi ketika mengantarkan Bali Post mengelilingi art shop-nya di kawasan Desa Peliatan, Ubud, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlengkapan Kamar Tidur&lt;br /&gt;Dari beragam produk batik tulis yang diproduksinya, Desak Nithi yang menggeluti bisnis batik tulis sejak dekade 1970-an ini mengaku memberikan porsi perhatian lebih kepada perlengkapan kamar tidur seperti bedcover (sprei), sarung bantal, gorden dan wall hanging. Guna melengkapi kenyamanan tidur konsumennya, pihaknya juga memproduksi piyama batik dengan motif senada dengan perlengkapan kamar tidur lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, Nithi juga terobsesi merancang amature (rumah lampu-red) lampu tidur dengan material dominan batik tulis. ”Saya memang sangat concern menciptakan perlengkapan kamar tidur berbahan baku batik tulis ini. Terus terang, perlengkapan kamar tidur ini memang jadi andalan home industry kami,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberikan garansi bahwa seluruh produk batik tulis yang diciptakannya sangat nyaman dipakai. Masalahnya, seluruh bahan bakunya menggunakan kain katun, linen dan sutra pilihan. Produk bedcover, misalnya, dijamin tidak kusut sehabis ditiduri karena sistem penjahitannya dibuat secermat dan seteliti mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Penggunaan bahan yang serba pilihan ini juga menjadikan perlengkapan kamar tidur yang kami produksi tidak membuat konsumen kegerahan,” katanya tanpa pretensi mempromosikan produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nithi, perlengkapan kamar tidur kini tidak lagi menonjolkan nilai fungsi semata. Selain nyaman ditiduri, piranti yang mengantarkan pemakainya mengembara ke alam mimpi ini juga wajib memenuhi unsur-unsur keindahan untuk mengangkat suasana interior kamar tidur secara keseluruhan. Guna mewujudkan kepentingan itu, pihaknya senantiasa merasa tertantang untuk menciptakan beragam desain batik tulis gres yang lain daripada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perpaduan yang harmonis antara nilai fungsi dengan nilai-nilai keindahan itu jadi perhatian utama kami setiap kali merencanakan sebuah desain baru. Dengan begitu, batik tulis produksi kami juga sangat layak jika diposisikan sebagai karya seni di luar fungsinya sebagai perlengkapan kamar tidur,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nithi melihat ada kecenderungan mulai jenuh dengan perlengkapan kamar tidur yang tampil polos dan sederhana. Realita itulah yang membuat dirinya mencoba peruntungan di bisnis perlengkapan kamar tidur yang kaya motif, warna maupun variasi lainnya. Dan, batik tulis dinilai pantas untuk menjawab kejenuhan konsumen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sengaja memilih batik tulis, bukan batik cetak (stempel), karena batik tulis saya nilai lebih eksklusif, berwibawa dan terkesan mahal. Mengingat proses pengerjaannya secara manual, produk ini tidak akan melimpah sehingga tidak terkesan pasaran,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan, bisnis perlengkapan kamar tidur berbahan baku batik tulis di Bali masih jarang yang menekuni sehingga pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Dia juga mengaku tidak gentar bersaing dengan kompetitor yang memproduksi perlengkapan kamar tidur dengan teknik batik cetak. Meskipun sepintas terlihat mirip, namun batik tulis dihargai lebih tinggi lantaran nilai artistiknya lebih mencuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya juga tidak khawatir desain batik yang saya ciptakan dijiplak dan dimassalkan dalam wujud batik cetak karena setiap saat saya menciptakan desain-desain baru untuk menggantikan desain-desain lama yang sudah dilemparkan ke pasaran,” katanya dan menambahkan, pihaknya mempekerjakan sejumlah desainer yang khusus bertanggung jawab untuk menciptakan desain-desain baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (w. sumatika) Bali Post&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-8378312370799779757?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/8378312370799779757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/pesona-batik-tulis-ketika-nilai-etnis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/8378312370799779757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/8378312370799779757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/pesona-batik-tulis-ketika-nilai-etnis.html' title='Pesona Batik Tulis: Ketika Nilai Etnis, Tradisi, dan Modern Berpadu'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-4189374843974827060</id><published>2009-11-07T10:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:24:21.789-08:00</updated><title type='text'>Mbok Mase Menentukan Segalanya</title><content type='html'>*Aryo Wisanggeni Genthong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan laskar China yang berhasil membunuh komandan garnizun Belanda di Kartasura, Van Velzen, pada 10 Juni 1741 berkembang menjadi awal kehancuran Kraton Kartasura Hadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar China yang marah melihat inkonsistensi Paku Buwana II melawan Belanda menjarah Kraton Kartasura, sehingga Paku Buwana II harus melarikan diri ke sebuah goa di tepi Sungai Laweyan, Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paku Buwana II meminta bantuan pinjaman puluhan kuda dari para saudagar batik Laweyan dalam pengasingannya. Tetapi, permintaan itu ditolak mentah-mentah para saudagar batik Laweyan. Bagaimana mungkin para saudagar pribumi Jawa membangkang terhadap pewaris takhta Mataram itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti sejarah dari Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta Soedarmono di suatu malam awal November lalu di Solo (baca: Surakarta) bertutur kepada Tim Lintas Timur-Barat Kompas hingga lewat tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasannya sederhana, karena yang berkuasa di Laweyan adalah kaum perempuan. Kaum perempuan Laweyan benci dengan gaya hidup priayi istana yang berfoya-foya, gila hormat, dan berpoligami. Bagi mereka, tidak ada gunanya menolong seorang raja. Sejak lama mereka telah resisten, katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soedarmono, di Laweyan, perempuan berkuasa dan kekuasaan itu dijadikan alat untuk melawan berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan, termasuk poligami yang acap kali dilakukan kaum priayi istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas pedagang Laweyan berangkat dari ibu rumah tangga Laweyan yang membatik di sela-sela menjalankan pekerjaan domestik mereka. Pekerjaan membatik itu amat halus dan rumit sehingga lelaki tidak memiliki tempat dalam dalam pekerjaan ini. Sambilan membatik ini lalu berkembang menjadi usaha perdagangan, dan menjadi sumber utama penghasilan keluarga, kata Soedarmono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran sang ibu&lt;br /&gt;Dalam tesisnya, Munculnya Kelompok Pengusaha Batik di Laweyan pada Awal Abad XX, dituliskan ibu rumah tangga memegang kekuasaan utama atas jalannya perdagangan batik Laweyan. Sang ibu mengurus keuangan, menentukan jumlah produksi, dan mendistribusikan batik itu ke tangan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami sebagai kepala rumah tangga hanya memegang peranan 25 persen dari proses produksi batik itu. Status kekuasaan perempuan itu mewujud dalam sebutan Mbok Mase, sementara lelaki selaku kepala rumah tangga di posisi kedua dengan sebutan Mas Nganten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan menentukan segalanya. Seorang Mbok Mase menentukan perjodohan anaknya. Lamaran Mas Nganten hanya formalitas karena telah ditentukan oleh Mbok Mase. Menantu laki-laki akan tinggal seterusnya di rumah Mbok Mase. Jika tiba waktunya, istrinya akan menjadi Mbok Mase generasi berikutnya, dan ia menjadi Mas Nganten. Mertuanya tetap tinggal serumah, menjadi Mbok Mase Sepuh dan Mas Nganten Sepuh, tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Mas Nganten boleh melakukan apa saja yang diinginkannya, selama tidak berpoligami, tidak berfoya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase. Jika seorang Mas Nganten mencederai kepercayaan Mbok Mase, sang Mas Nganten diceraikan dan kehilangan tempat dalam struktur sosial Laweyan. Perempuan Laweyan berupaya mempertahankan kekuasaan itu secara turun-temurun, tutur Soedarmono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi bakul&lt;br /&gt;Menurutnya, para Mbok Mase sadar bahwa kekayaan harta yang bersumber dari produksi batik merupakan benteng bagi perempuan Laweyan untuk terhindar dari penindasan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menikahkan Mas Rara, Mbok Mase berpegang pada asas banda ora keliya , harta tidak jatuh ke tangan orang lain. Mas Rara harus menikah dengan anak Mbok Mase lain, atau setidaknya menikah dengan anak pedagang besar, katanya. Mbok Mase mempersiapkan Mas Rara untuk menjadi Mbok Mase berikutnya, dan dipersiapkan sejak usia enam tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang mantan pengusaha batik Laweyan dari keturunan keluarga Reksodimedjo, Mulyani (69), menuturkan sejak kelas IV Sekolah Rakyat dirinya telah diajak ibunya mengurus dagangan batik di Pasar Klewer dan Pasar Nonongan, Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang sekolah saya berpapasan dengan ibu di jalan, bisa langsung disuruh naik ke becak. Tas sekolah saya langsung dititipkan ke tetangga. Istilahnya, bangun tidur menjadi bakul, dari mulai bangun tidur langsung menjadi pedagang. Tidak ada istirahatnya, selalu kerja keras, kata Mulyani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masanya, anak gadis biasanya tinggal dalam rumah bertembok tinggi. Seolah, kami hanya dididik untuk kerja, katanya. Mas Rara, seperti Mulyani, ditempa menjadi pribadi mandiri. Sejak kecil, ayah mengajarkan, kami anak perempuan harus malu jika hanya menadahkan tangan ke suami, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan keluarga Laweyan lainnya, Mulyani dikirim ayahnya ke sekolah. Salah satu adiknya kini menjadi doktor di bidang arkeologi dan mengajar di jurusan Arsitektur di Universitas Tarumanegara, yaitu Dr Nanik Perditi. Dia juga menjabat sebagai Direktur Centre for Architecture and Conservation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara bersekolah tinggi, Mulyani menjadi rasanan (bahan perbincangan) tetangganya. Setelah lulus SMA tahun 1957, saya berniat sekolah di Universitas Gadjah Mada, tetapi gagal karena ayah sakit keras, lanjutnya. Karena saya belum juga menikah, ibu sampai malu. Tahun 1959 saya menikah, tambahnya. Ia menjadi Mbok Mase terakhir. Pabrik batik keluarganya tutup akhir tahun 1994 karena dia lelah dan tidak bisa mengikuti tren mode batik bukan sebagai kain. Batik Laweyan ketika itu berkembang menjadi produk seprai, baju, daster, dan sebagainya. Keturunan keluarga Laweyan yang masih bertahan yang bisa kita lihat sekarang di antaranya adalah Danar Hadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbok Mase juga memotori industrialisasi batik, pergeseran batik tulis ke batik cap pada awal abad XX, dan selanjutnya ke batik printing pada tahun 1970-an. Produksi batik bergeser dari pekerjaan rumahan menjadi kegiatan pertukangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modernisasi itu, batik Laweyan mencapai puncak kejayaan. Laporan De Kat Angelino tahun 1930 menunjukkan, sebuah perusahaan batik besar di Laweyan bisa memproduksi 60.400 potong batik per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu tahun, penghasilan bersih juragan batik Laweyan bisa mencapai 60.400 gulden. Itu jauh di atas penghasilan seorang priayi keraton, kata Soedarmono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemakmuran para Mbok Mase tergambar dari peninggalan bangunan tua di Laweyan, di mana rumah para Mbok Mase Laweyan tidak ubahnya dengan istana, dengan tembok tingginya. Model bangunan Laweyan bernapas art deco, model bangunan paling modern ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1987, Soedarmono masih menemukan rumah milik Tjokrokarno, sebuah rumah dengan luas tanah 3.000 meter persegi. Rumah itu memiliki bekas kandang kuda yang cukup untuk lima ekor kuda, berikut garasi mobil untuk beberapa mobil Fiat, ujar Soedarmono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini sisa-sisa kejayaan pedagang Laweyan dan batik Laweyan masih terlihat di Jalan Dr Rajiman yang di kanan kirinya berjajar loji-loji (bangunan rumah tembok) berarsitektur art deco milik para saudagar batik Laweyan. Salah satunya adalah penginapan Roemahkoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pemerintah membuka kompetisi antara batik cap dengan batik printing telah mematikan komunitas Laweyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat cap para saudagar batik yang dulu begitu berharga hingga menjadi obyek curian di antara sesama juragan batik kini seolah tak bernilai lagi. Banyak cap dijual di pasar loak sebagai barang antik, sebagian teronggok di gudang di Laweyan. Kini Laweyan ibarat gadis yang kehilangan semangat dan napas hidupnya. Adalah Wali Kota Solo Slamet Suryanto pada 25 September 2004 yang ingin membangkitkan lagi napas Mbok Mase di Kampung Laweyan dengan menjadikannya Kampung Batik. Akankah napas Mbok Mase itu bangkit lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (isw/why/nut) Kompas Cetak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-4189374843974827060?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/4189374843974827060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/mbok-mase-menentukan-segalanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4189374843974827060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4189374843974827060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/mbok-mase-menentukan-segalanya.html' title='Mbok Mase Menentukan Segalanya'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-6834616051937086149</id><published>2009-11-07T10:22:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:23:32.377-08:00</updated><title type='text'>Kebangkitan Kampung Batik Laweyan</title><content type='html'>*Wahyu Haryo PS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sejarah memperlihatkan, eksistensi Kampung Batik Laweyan berkali-kali digerus oleh kekuatan luar yang tidak menghendaki kekuatan ekonomi yang digalang kaum perempuan Mbok Mase ini terus bertengger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita rakyat dan stereotyping dalam bentuk hukuman lawe dan perempuan Bahu (baca: bau) Laweyan yang mendatangkan bencana bagi suaminya, pernah diembuskan pihak keraton untuk melawan dominasi Mbok Mase. Akibatnya, penghuni Kampung Batik Laweyan serasa dikucilkan dari lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi posisi tawar ekonomi Kampung Batik Laweyan juga pernah dimanfaatkan untuk kepentingan dukungan politik semasa kabinet parlementer. Kekuatan kongsi dagang di sana juga pernah diadu domba dengan kekuatan kongsi dagang China, yang dirancang oleh Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kejayaan Kampung Batik Laweyan benar-benar tidak bisa dipertahankan saat kapitalisasi industri batik semasa pemerintahan Orde Baru. Pemodal asing dan kroni Orde Baru masuk ke wilayah di sekitar Laweyan di Sukoharjo dengan teknologi printing yang jauh lebih efisien, cepat, berproduksi secara massal, dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi ini jelas bukan tandingan batik tulis dan cap yang ada di Laweyan. Seketika, batik printing dari pemilik modal besar mampu menguasai pasar batik di mana-mana. Batik Laweyan kalah bersaing sehingga kejayaan batik Laweyan tinggal nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya kirim batik ke Surabaya, kok ditolak terus. Lalu saya ajak suami saya ke Pasar Turi di Surabaya. Di sana saya sampai tidak bisa ngomong. Di mana-mana batik berjubel sampai gudangnya luber. Pedagang di sana mengatakan mendapat pasokan dari Jakarta, tak harus membayar dulu seperti kalau membeli dari kami. Mereka digelontor batik ratusan kodi tanpa harus bayar. Gudang mereka sampai tidak muat. Melihat itu kaki saya lemas. Saya menangis. Ke mana lagi kami harus menjual produk kami, ujar Mulyani (69) dengan suara tersendat dan matanya pun basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pada akhir tahun 1994 pabriknya tutup, dengan korban sekitar 100 karyawan yang harus menganggur mendadak. Mulyani bisa jadi salah satu potret Mbok Mase, di mana dia menjanda dari usia 39 tahun dan harus membesarkan tiga putranya sendirian. Kini ketiga putranya sudah selesai pendidikan tinggi dan mapan secara ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, produsen batik di Jakarta dengan batik printing-nya mampu memproduksi ratusan kodi sehari, sementara batik cap Laweyan hanya 20 kodi-30 kodi sehari. Bahkan batik tulis memiliki waktu proses sebulan hingga empat bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini membuat orientasi orang Laweyan terhadap anak-anaknya berubah. Mulyani, yang merupakan generasi ketiga salah satu kerajaan batik di Laweyan milik Haryono, menuturkan, semasa kejayaan batik Laweyan, anak-anak mereka dididik untuk mengelola kerajaan batik milik keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dididik di dalam kungkungan tembok-tembok tinggi Laweyan, tuturnya. Nyaris semua rumah di Kampung Laweyan memang berdinding tinggi dengan gaya bangunan art deco. Bagi mereka, sekolah tidak perlu harus sampai ke jenjang yang tinggi, cukup bisa membaca, menulis, dan berhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbok Mase Laweyan zaman dulu sudah mendidik putrinya untuk berdagang dan membuat batik sejak kelas IV SD. Ketika putri mereka sudah lulus SMP, langsung dinikahkan dan diberi usaha sendiri. Saat usaha batik kalah bersaing dengan produksi printing, maka orang Laweyan beralih usaha ke bidang yang lain dan pendidikan setinggi mungkin bagi anak mereka menjadi penting, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu hingga tahun 2000, generasi muda Laweyan jarang yang tetap melanjutkan usaha batik milik keluarganya. Generasi muda ini memilih menempuh studi hingga jenjang yang tinggi dan bekerja di perusahaan-perusahaan swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana memang bukan jaminan untuk hidup, tetapi hanya sarana untuk hidup. Selepas lulus sarjana, anak muda Laweyan disuruh kerja di luar kota. Jadi, sukses anak generasi muda Laweyan saat ini bukan karena menjalankan usaha batik, tetapi karena bekerja atau usaha lainnya, kata Mulyani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori kejayaan Kampung Batik Laweyan di masa lampau membuat generasi muda di Laweyan ingin membangkitkan kembali kenangan akan kejayaan itu. Salah satu generasi penerus pembatik, Dr Nanik Perditi, mengawali upaya menghidupkan kembali Kampung Batik Laweyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung bersambut, ide ini didukung Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Solo Febria Roekmi Evy menyatakan, produk unggulan batik di Laweyan nantinya akan menjadi salah satu ikon yang mendukung upaya menjadikan Solo sebagai kota wisata belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dicanangkan, kehidupan industri batik di sana mulai menggeliat lagi. Sebelumnya, tempat itu seperti tidur dalam hal produksi batik. Jadi, sebenarnya kami hanya menghidupkan apa yang telah ada. Sebagai fokus awal, kami akan mengarahkan wisata belanja ini pada produsen batik, ujar Evy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Solo yang dulunya sebagai produsen terbesar produk batik dapat meraih kejayaannya kembali seiring dengan didorongnya kota itu sebagai kota wisata belanja. Ia mencontohkan Kota Pekalongan yang awalnya kurang berkembang, namun lambat laun kota itu akhirnya bisa berubah menjadi produsen batik terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saat ini wisatawan yang membeli batik di gerai batik yang dibuka penduduk Laweyan masih sedikit, maka mereka harus bisa bertahan untuk beberapa tahun ke depan. Jika ternyata mereka merasa merugi dan justru menutup gerai batik tersebut, maka upaya mengembalikan kejayaan Kampung Batik Laweyan sebagai sentra batik di Solo menjadi semakin jauh dari harapan, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melintasi Kampung Batik Laweyan saat ini, bisa disaksikan beberapa usaha batik yang mulai tumbuh dan berkembang di sana. Hampir di setiap gang kecil sudah bisa dijumpai lagi gerai batik. Patung perempuan pembatik yang tersisa di beberapa sudut gang memberi semacam landmark nuansa kampung batik. Hal ini ditambah adanya gerbang Kampung Batik Laweyan yang pembangunannya difasilitasi Pemkot Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret, Soedarmono, menilai, pengembangan Kampung Batik Laweyan saat ini belum menyentuh sisi substansial dari sejarah industri batik yang pernah berkembang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan Kampung Batik Laweyan baru sebatas mencoba menggairahkan perdagangan batik di sana untuk menunjang dan memajukan pariwisata di Solo, belum dikembangkan sebagai sebuah warisan yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (isw/row/nut) Kompas Cetak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-6834616051937086149?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/6834616051937086149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/kebangkitan-kampung-batik-laweyan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6834616051937086149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6834616051937086149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/kebangkitan-kampung-batik-laweyan.html' title='Kebangkitan Kampung Batik Laweyan'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-8255006206586806510</id><published>2009-11-07T10:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:22:24.366-08:00</updated><title type='text'>Batik Tak Harus dengan Kebaya</title><content type='html'>Selama ini, batik masih menjadi andalan untuk busana di acara-acara formal. Tak bisa dimungkiri, batik kerap identik dengan kesan tua mengingat pemakai batik adalah mereka yang sudah berumur. Namun, dengan kreativitas tinggi dan kecermatan memilih motif dan warna, batik bisa menjadi pilihan untuk setiap kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tan Han Goen, desainer asal Surabaya, saat ini banyak diproduksi batik dengan motif dan warna yang jauh dari kesan tua. “Tinggal cara memilih dan mendesain kain tersebut,” kata desainer yang beberapa kali mendapatkan sertifikat dari Museum Rekor Indonesia (Muri) atas karya-karyanya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut dia, kain batik tak harus selalu dipadupadankan dengan kebaya.”Hanya menggunakan kain serta selendangnya saja sudah bisa dijadikan busana,” jelasnya. Caranya pun cukup mudah. Cukup dengan bantuan jarum pentul dan jahitan yang sifatnya tidak permanen, kain-kain batik itu bisa disulap menjadi busana yang modis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu seperti ditampilkan dalam beberapa rancangannya kali ini. Dia menyulap kain koleksi aura batik menjadi busana yang simpel namun modis. Ada yang dibuat mirip kimono, kemben, dan atasan halter neck. Sementara itu, bawahannya cukup diikat dengan teknik ikatan osing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desainnya Jangan Terlalu Rumit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika membuat desain untuk batik. Sebab, batik sudah penuh dengan motif. “Jadi, ada baiknya jika desain yang dibuat tak terlalu rumit,” ujar Tan Han Goen. Desain yang rumit akan membuat pemakainya terlihat lebih ’berat’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pria, kemeja sederhana yang chic masih menjadi pilihan. Desain kemeja untuk pria, tidak perlu terlalu njlimet. “Yang penting adalah pemilihan motif,” jelasnya. Penekanan motif di bagian dada bisa membuat kesan bidang. Selain itu, tak ada salahnya jika memilih warna-warna lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jenis bahan batik, ada beberapa pilihan. Bisa menggunakan batik dari sutra, katun, atau serat nanas. Jenis bahan itu bergantung pada desain dan selera penggunanya. Batik dari bahan katun bisa digunakan untuk busana sehari-hari. Namun, untuk busana pesta atau acara yang lebih formal, bisa dipilih bahan dari sutra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahan sutra relatif ringan. Jadi, wanita yang berbadan besar sebaiknya tak memilih desain yang melekat tubuh,” tegasnya. Hal tersebut justru membuat kesan elegan batiknya pudar. Batik dari bahan serat nanas sebaiknya digunakan untuk desain-desain yang membutuhkan ketegasan garis.&lt;br /&gt;Sumber : (tia) Jawa Pos&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-8255006206586806510?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/8255006206586806510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-tak-harus-dengan-kebaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/8255006206586806510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/8255006206586806510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-tak-harus-dengan-kebaya.html' title='Batik Tak Harus dengan Kebaya'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-5758188124186249628</id><published>2009-11-07T10:20:00.001-08:00</published><updated>2009-11-07T10:20:47.004-08:00</updated><title type='text'>Batik Pekalongan, yang Pudar dan yang Bersinar</title><content type='html'>Aryo Wisanggeni G dan Brigitta Isworo L&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Penjelajahan” di Kota Pekalongan, siang tanggal 3 November lalu, merupakan pengalaman tersendiri. Rekan satu tim yang merayakan Lebaran hanya bisa bersilaturahmi dan saling memaafkan dengan rekan satu tim lainnya di Tim Lintas Timur-Barat Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ketika itu berempat, berlima dengan pengemudi kami, Pak Hartono, yang setia mendampingi sejak dari Jawa Timur. Lebaran tanpa ketupat karena perjalanan kami serba singkat dan cepat. Kota Pekalongan siang itu begitu sunyi. Setelah menelusuri ke beberapa tempat dan tidak bertemu narasumber karena mereka sedang berlebaran, tim memutuskan untuk ke Desa Jrebeng Kembang, Kecamatan Karang Dadap, Kabupaten Kajen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk menyusuri jalan desa sekitar empat kilometer, kami mendatangi sebuah rumah yang ramai oleh suasana silaturahmi. Anak-anak kecil berlarian, orang dewasa duduk berbincang dengan berbagai penganan tersaji di meja. ”Minal aidin walfaizin…,” rekan kami membuka salam. Kami sungguh beruntung karena pasangan Pak Ramelan-Ibu Temu Patonah dengan tangan terbuka menyambut kami. Perbincangan pun mengalir lancar. Dan, Ibu Patonah seakan menumpahkan deritanya kepada kami tanpa nada mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu amat sederhana dengan perabot kursi dan meja seadanya yang tampak sudah bertahun-tahun tidak diganti. ”Wah sekarang kami menganggur. Malah banyak yang sudah pindah usaha ke konveksi. Kalau dulu, kami ibaratnya sampai ke cucu, semua membatik,” tutur Patonah membuka kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun lalu, desa tersebut bisa dikatakan sebagai sentra pembatik. Dari rumahnya sendiri, Patonah bisa memproduksi 10 kain batik. Di dukuhnya, ada sekitar 25 keluarga, 20 di antaranya adalah keluarga pembatik. ”Pembatik ibaratnya bisa ditemukan di setiap rumah,” tutur Patonah mengenang. Siang itu dia membalut diri dengan kebaya sederhana bernuansa biru yang sudah kusam warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memproduksi sendiri, Patonah juga mengumpulkan hasil batikan tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tahun 1980 sampai 1985 batik sampai bertumpuk-tumpuk di sini. Sebulan bisa menjual antara lima kodi (100 lembar kain—Red) sampai 10 kodi,” tutur Patonah. Rincian ongkos produksi, yaitu kain mori Rp 11.500 per ukuran kain, bahan mbabar (proses celup warna sampai selesai—Red) Rp 5.000, dan upah membatik Rp 10.000. Lalu, kain batik jadi dijual Rp 29.000-Rp 29.500 per potong. Dia mengambil untung rata-rata Rp 3.000 per potong. ”Hanya cukup untuk makan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akhir 1990-an, semua bangkrut. Dulu ibaratnya semua rumah membatik. Akibat krismon, bisa dikatakan tinggal sekitar empat rumah yang masih membatik,” kata Patonah. Sebagian keluarga banting setir ke usaha konveksi bahan jins, sebagian mencoba eksis dengan tetap menjadi pembatik bagi pengusaha batik bermodal besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Harga mori menjadi Rp 15.000 per potong, ongkos membatikkan Rp 15.000, dan bahan mbabar Rp 6.000. Jadi biaya produksi naik menjadi Rp 36.000. Sementara, kami hanya bisa menjual seharga Rp 30.000 paling tinggi. Ya… selalu tekor. Sementara harga kain batik sablon hanya Rp 15.000 dengan hasil mirip dengan batik tulis. Jadi, batik tulis kasar mati semua. Saya saja pakai batik sablon,” ujarnya getir sambil menunjuk kain batik yang sudah pudar warnanya yang dikenakannya. Kini batik tulis yang dijual hanya yang batikannya halus sehingga harganya pun mencapai ratusan ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak punya modal cukup, Patonah hanya bisa menjadi penjual nasi dengan modal beras lima sampai enam kilogram per hari. ”Tidak bisa lagi usaha batik karena tidak tahu cara mewarna batik sablon. Kami tidak tahu caranya,” ujar Patonah mengakui kekurangannya. Sementara itu, Jaenuri tetangganya yang semula juga memproduksi batik tulis dengan lima pembatik, kini mengerjakan konveksi bahan jins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan Kepala Desa Jrebeng Kembang, Suroto, dari sekitar 200 pembatik yang dulu ada di desanya, kini hampir semuanya telah meninggalkan pekerjaan membatik. Kini di wilayahnya telah tumbuh sekitar 50 usaha konveksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua pembatik menjadi penganggur. Para pembatik yang karyanya halus, seperti Nokimah, kini menjadi pembatik buruh di pengusaha batik tulis. Mereka umumnya dibayar borongan sekitar Rp 150.000 untuk motif batik yang sederhana dan mudah dikerjakan, dan dibayar sampai sekitar Rp 300.000 untuk motif batik yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang mudah, sekitar dua minggu selesai. Yang motifnya sulit bisa sampai sebulan,” tutur Nokimah yang tinggal selisih tiga rumah dari Patonah. Dia kini membatik untuk pengusaha di Pekajangan yang memiliki sekitar 50 pembatik. Menurut dia, pendapatannya sekarang lebih besar daripada dia membuat sendiri batik tulis kasar. Mereka yang tidak bisa membatik halus kini menjadi buruh di pabrik batik sablon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang batik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterpurukan kampung batik bukan hanya terjadi di desa, seperti di Kecamatan Karang Dadap. Beberapa kampung batik di kawasan kota Pekalongan, Kampung Pesindon misalnya, dulu dikenal sebagai kampung pembatik. Akan tetapi, saat ini Kampung Pesindon atau Kauman telah menjelma menjadi kampung pedagang batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MB Nur Hidayat, pemilik galeri Batik Seni Asti, menuturkan, batik sudah berkembang menjadi dagangan yang harus memerhatikan selera pasar. ”Pedaganglah yang mampu mengenali barang apa yang sedang laris di pasaran, di Yogyakarta dan Solo. Jadi, pembatik kini bekerja untuk pedagang,” ungkap Hidayat yang menjajakan batiknya hingga Yogyakarta dan Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dari situ saya mengetahui perkembangan pasar. Begitu ada tren baru, saya mengantisipasinya, meminta pembatik membuat batik yang sesuai permintaan pasar,” katanya. Di tangan para pedagang itulah konsep dan desain baru batik Pekalongan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modifikasi motif, batik tulis mendapatkan tempat di pasar, yaitu sebagai karya seni sehingga yang mendapat tempat adalah batik tulis halus. ”Batik sablon kasar juga mengembangkan motif dengan cepat. Itu barangkali sebabnya batik tulis kasar sulit mencari tempat di pasar karena kalah efisien dibandingkan batik sablon,” kata Hidayat yang menjual berbagai jenis kualitas batik. ”Toko saya seperti toko swalayan. Batik seharga Rp 20.000 ada, batik Rp 2 juta juga ada,” ujarnya menerangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terus terang, saya lebih senang menjual batik seni. Batik seni tidak sensitif terhadap perubahan harga bahan baku dan biaya produksi. Nilai jualnya jauh di atas ongkos produksi,” ujarnya. Dia yakin, sebagai karya seni, batik tulis tidak akan ditinggalkan orang. ”Konsumen batik seni adalah orang yang menghargai batik sehingga mereka mau mengeluarkan lebih banyak uang. Sebagian dari mereka malah memburu batik-batik halus ini,” ujarnya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk batik tulis, Hidayat memilih menjual batik sutra yang harganya Rp 1 juta-Rp 2 juta. ”Saya juga berjualan batik mori halus, tetapi jumlahnya sedikit. Saat ini pembuat batik halus mori sedikit. Hanya yang garapannya sangat halus bertahan di cerukan pasar batik seni. Batik kelas itu membutuhkan waktu pembuatan lama, bisa pesan setengah tahun baru jadi,” kata Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Hidayat tidak salah. Di penggal jalan raya Kedungwuni terdapat papan Art Batik. Dari sanalah roda perusahaan batik tulis mori halus Oey Soe Tjoen digerakkan oleh Widianti Widjaja, generasi ketiga Batik Oey Soe Tjoen yang mulai berdiri sejak tahun 1920.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi Oey Soe Tjoen bisa dikatakan adikarya batik yang pembuatannya memakan waktu setengah tahun hingga dua tahun. ”Satu motif ini dikerjakan oleh lebih dari satu pembatik. Ada yang khusus membuat cecek (titik-titik halus—Red), ada yang khusus membuat gambar dasarnya, dan lainnya lagi. Setidaknya satu kain melibatkan antara sepuluh hingga 15 pembatik dengan spesialisasinya. Masing-masing kami pilih yang terbaik,” ujar Widianti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak mengherankan jika batik berlabel Oey Soe Tjoen ini menjadi karya eksklusif yang hanya dibeli oleh kalangan tertentu—para pejabat dan konglomerat—termasuk orang asing, kebanyakan dari Jepang. Motif batiknya pun khas, karena motif tersebut merupakan warisan dari sang kakek dan nenek. ”Ada sekitar 100 motif batik ciptaan kakek dan nenek yang masih kami pertahankan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kemandekan Patonah dan Ruki’ah membuat mereka hanya menjadi penonton dan pemeran pembantu dalam gemerlap bisnis batik Pekalongan, Hidayat dan Widianti pun terus berkibar. Hidayat dengan kepiawaiannya berakrobat di tengah tren pasar, sementara Widianti berkutat dengan keeksklusifannya dan ketahanannya mengembangkan batik halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran peta kondisi batik Pekalongan yang namanya telah begitu dikenal luas di seluruh Nusantara. Pembatik seperti Patonah dan warga Desa Jrebeng Kembang lainnya kini tersingkir….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (WHY/NUT) Kompas Cetak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-5758188124186249628?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/5758188124186249628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-pekalongan-yang-pudar-dan-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5758188124186249628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5758188124186249628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-pekalongan-yang-pudar-dan-yang.html' title='Batik Pekalongan, yang Pudar dan yang Bersinar'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-2946502755187147881</id><published>2009-11-07T10:18:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:19:15.701-08:00</updated><title type='text'>Batik Indonesia di Kancah Batik Dunia</title><content type='html'>Di tengah-tengah beragamnya batik dunia, batik Indonesia memang belum kehilangan ciri khasnya. Batik Jawa Tengah yang dinilai memiliki motif paling kaya pun masih mempunyai roh. Namun, saat negara tetangga gencar mempromosikan batiknya ke berbagai benua, batik Indonesia seakan jalan di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artisan batik Iwan Tirtaamidjaja mengakui, kualitas batik Indonesia saat ini makin berkurang. Ibarat wine, esensinya makin berkurang dan terus berkurang hingga akhirnya menjadi air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik yang dipakai untuk busana sehari-hari saat ini sebagian besar memang print bermotif batik. Iwan Tirta sebenarnya termasuk orang yang ”mengharamkan” batik print karena akan mengurangi filosofi batik itu sendiri, seperti pembuatan motif dengan teknik perintang warna memakai malam atau pemakaian canting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Batik saat ini banyak, namun makin murah dan makin murah saja. Sebenarnya batik printing juga baik asalkan dibikin yang halus, jangan asal-asalan,” papar Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josephine Komara atau Obin mempunyai pandangan berbeda. Meskipun diakui motif batik print makin populer dan dapat membahayakan eksistensi batik tradisional, Obin mencermati bahwa batik tulis, batik cap, maupun batik print telah mempunyai pasar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Batik Indonesia itu unik dan sangat spesial. Jadi, saya rasa tidak perlu mengontradiksikan batik tulis, cap, atau print,” kata Obin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada perkembangan menggembirakan dalam hal konsumsi batik saat ini. Jika dulu batik hanya dikenakan untuk acara tertentu, saat ini wilayahnya makin meluas. Batik juga kerap dimodifikasi dengan motif lain untuk busana sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, di Jakarta sendiri banyak orang menggunakan batik bukan hanya untuk busana, namun juga dekorasi rumah. Batik juga digunakan untuk upacara pemakaman, ulang tahun, bahkan seragam kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Semenjak Gubernur Ali Sadikin, batik khususnya batik Betawi menjadi seragam wajib untuk pegawai. Anak-anak sekolah diharuskan memakai batik sehari dalam seminggu,” ujar Fauzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memosisikan batik&lt;br /&gt;Batik saat ini sebenarnya makin mendunia. Setidaknya itu tergambar dalam simposium tekstil tradisional ASEAN yang diselenggarakan Himpunan Wastraprema, Senin-Selasa (5-6 Desember).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara dari Malaysia, Sulaiman Abdul Ghani, yang adalah Ketua Batik International Research and Design Access University of Technologi MARA Malaysia memaparkan, tahun 2003 adalah era kembalinya batik Malaysia. Tahun ini, Malaysia bahkan mempromosikan batiknya ke sejumlah negara termasuk Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seperti diakui Sulaiman, batik Malaysia yang awalnya berasal dari daerah Trenggano dan Kelantan sebenarnya sangat dipengaruhi batik Indonesia, khususnya dari Cirebon dan Pekalongan. Batik bahkan baru dikenal di Malaysia pada tahun 1920-an dan baru dijadikan industri tahun 1950-an. ”Tahun 1960-an ke atas baru ada identitas Malaysia,” ujar Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ironis lagi, Malaysia sebenarnya baru mengenal canting sejak tahun 1970-an dan tahun 1985 langsung terpuruk karena tidak ada inovasi dalam desain dan pewarnaan. ”Saat ini, Malaysia sudah bangkit. Kami memadukan motif tradisional dan kontemporer,” jelas Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik sekarang populer kembali di mana-mana. Ada batik Thailand, Malaysia, Vietnam, China, India, bahkan Afrika Selatan. Namun, apa sebenarnya batik, orang terkadang masih memperdebatkannya. Apakah pola ragam hias dan penggunaan canting itu penting, juga menjadi perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Iwan, para pembuat batik sebaiknya harus kembali ke dasar. Ragam hias kuno semisal titik, ukel, dan garis itu juga harus dipertahankan. Orang yang mengerti batik sudah seharusnya bisa menceritakan bahwa di balik batik itu ada dongeng dan filosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, orang yang paham batik jarang mempunyai kesempatan menularkan pengetahuan tentang batik. Jika ada pameran batik di luar negeri, yang datang sebagian besar adalah pedagang batik yang berbicara lebih pada harga dan nilai komersialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik bagi Iwan adalah ikon Indonesia, seperti halnya jamu atau kerajinan kayu. Oleh karena itu, batik harus selalu dijunjung tinggi, dihormati, dan diletakkan pada aras internasional sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Batik tidak hanya sebagai art to wear, namun juga untuk dekorasi gamelan dan wayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kelemahan orang tak akan terlihat ketika dia memakai batik, terutama batik tradisional. Yang terlihat justru kekuatan. Itulah mengapa saya bisa hidup dan mengalami masa enam presiden di Indonesia. Di mana pun, kita akan menjadi lebih kaya dengan batik,” jelas Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Iwan, tidak perlu lagi mempertentangkan asal muasal batik. Khusus untuk ASEAN, bahkan Asia, sebaiknya digalang kerja sama untuk terus mempromosikan batik. Misalnya dengan membuat motif batik Jawa Tengah di atas kain sari dari Banglades atau motif cinde di atas kain tenun dari India, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (Susi Ivvaty) Kompas Cetak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-2946502755187147881?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/2946502755187147881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-indonesia-di-kancah-batik-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/2946502755187147881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/2946502755187147881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-indonesia-di-kancah-batik-dunia.html' title='Batik Indonesia di Kancah Batik Dunia'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-8406992260457514903</id><published>2009-11-07T10:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:18:25.402-08:00</updated><title type='text'>Masih Adakah Peluang Batik Dikagumi?</title><content type='html'>BENARKAH batik sudah mati? Alhamdulillah, batik belum mati. Batik masih hidup dan dihidupkan oleh masyarakat dunia. Seluruh dunia mengenal batik sebagai salah satu karya cipta suatu bangsa, dan mengenakannya pada berbagai kesempatan. Batik juga dipakai tidak saja oleh presiden. Tetapi, bahwa batik sudah memasyarakat, seorang petani pun mengenakan batik ketika menjual padinya ke kota. Batik dipakai semua orang dari segala lapisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi Internasional Dunia Batik yang digelar di Yogyakarta dan menyusul di kota-kota lain, setidaknya menegaskan secara formal bahwa batik memang masih hidup. Dan, batik masih dibicarakan karena memiliki daya tariknya yang kuat. Sudah cukup lama orang memakai batik, sudah cukup lama pula batik dibuat orang, sampai hari ini pun kita masih bisa menemukan orang-orang yang membuat batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut pula bangga apabila batik juga dipelajari di berbagai negara, tak cuma di Indonesia. Pernahkah kita membayangkan bahwa di Argentina ada studi mengenai batik? Pernah pulakah kita bayangkan, orang Afrika memakai batik dalam jamuan resmi? Jika kenyataan ini terjadi, barangkali karena batik memiliki nilai. Batik mempunyai sukma yang mampu menghidupkan, tak sekadar barang mati atau barang pajangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik, di mana-mana batik, tentu menyenangkan. Jika orang datang ke Yogyakarta untuk kepentingan batik, apa artinya? Bila orang datang ke Solo, Banyumas, Pekalongan — daerah-daerah di wilayah Jawa Tengah yang juga dikenal karena batiknya — karena tertarik pada batiknya, apa artinya? Itu artinya, kita sudah bicara batik dalam konteks pariwisata. Batik, bisa mendatangkan devisa. Dengan promosi dan publikasi yang menjangkau dunia, orang akan memburu batik sampai ke pelosok. Bahkan Fred van Oss dari Belanda membayangkan suatu perjalanan batik di Indonesia, tentu menarik bagi pariwisata minat khusus. Mereka bisa diajak tur ke kota-kota di Indonesia yang menghasilkan batik. Dari Tuban, misalnya ke Pekalongan, Banyumas, Lasem, Solo, Yogyakarta, dan tempat-tempat lain yang punya kaitan erat dengan batik. Adalah perjalanan yang menarik dan tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIA, memang penuh sensasi. Banyak perajin batik tradisional yang bertahun-tahun hidup, betapa pun harga batik yang dijual kepada tengkulak tak mahal. Ibu-ibu tua itu dengan tekun menggoreskan cantingnya ke selembar kain. Ibu-ibu tua itulah yang menyulap kain putih menjadi bermotif-motif, walaupun mereka tak memperoleh banyak uang dari hasil kerjanya yang berhari-hari itu, toh mereka puas bisa menyalurkan ekspresinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, para pembatik itu bahkan harus menghadapi tantangan dari berbagai penjuru, hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Sebab, teknologi modern tak pernah dibayangkannya ketika canting-canting itu tetap saja dipegang di tangan kanannya. Tapi, itulah sesungguhnya kehidupan yang sesungguhnya. Dari situlah kita mengenal parang rusak, truntum, ceplok, kawung. Dan, mudah-mudahan generasi muda kita pun masih mengenal berbagai corak dan sebutan batik berikut kapan batik jenis tertentu itu dikenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tahukah para pembatik itu betapa teknologi telah mampu meniru goresan-goresan tangan melalui canting? Sehingga, selain ada batik yang dibuat tekun yang dikenal sebagai batik tulis, ada pula batik cap yang hampir-hampir tak bisa dibedakan. Ya, batik memang sangat menjanjikan. Sampai kapan pun banyak orang bicara batik dari sisi suka dan tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik pun pada akhirnya tidak hanya sekadar kain yang dibalutkan pada tubuh kita. Lukisan batik pun menjadi bagian dari perjalanan batik yang tak bisa dibendung. Ia menggantung di tembok-tembok. Dipajang di berbagai gedung dan tempat bergengsi. Batik, batik, dan batik seakan menjadi nafas kehidupan. Tak bosan-bosannya pula kita memandang batik, membicarakan batik, mengenakan batik, karena batik ternyata hidup dan berkembang. Bahkan kita pun sampai hati memanipulasi batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU ada yang bisa dibanggakan pada batik, karena di berbagai daerah ada corak-corak khas. Bila kita datang ke Cirebon untuk melihat batik corak khas Cirebon, umpamanya. Cirebon pun memelihara batik sebagai salah satu kerajinan rakyat. Dalam ragam hias dan warnanya melambangkan arti-arti khusus yang mencerminkan kebijakan hidup. Misalnya batik mega mendung, wadasan, taman arum, paksi naga liman. Desa Trusmi yang terletak sekitar 7 kilometer arah barat dari kota Cirebon, merupakan sentra kerajinan batik yang cukup spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, kita singgah ke Pekalongan, ke Desa Lawiyan Solo, Desa Wijen Bantul, dalam perjalanan batik yang bisa kita lakukan — disebut Fred van Oss sebagai batik road. Niscaya bisa menumbuhkan wawasan bagi wisatawan. Dan Pulau Jawa memiliki potensi itu, karena banyak daerah di Jawa yang sampai hari ini masih menghasilkan batik. Perjalanan batik ini bisa dirancang, untuk atraksi yang menarik perhatian, tak sekadar mengagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu desa ke desa lain, batik yang diciptakan itu mencerminkan corak yang khas dan berbeda. Satu desa dengan desa yang lain bisa saling melengkapi. Apabila kita bisa mewujudkan kembali gagasan ini dengan lebih konseptual, mengangkat batik lebih ke permukaan dunia, batik bisa benar-benar menjadi penghasil devisa luar biasa. Batik di Indonesia, barangkali memiliki nilai lebih karena ada filosofinya, simbolnya, dan kaitannya dengan status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (Drs. Arwan Tuti Artha ) KR&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-8406992260457514903?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/8406992260457514903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/masih-adakah-peluang-batik-dikagumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/8406992260457514903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/8406992260457514903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/masih-adakah-peluang-batik-dikagumi.html' title='Masih Adakah Peluang Batik Dikagumi?'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-1256995613324790295</id><published>2009-11-07T10:16:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:17:30.344-08:00</updated><title type='text'>Agar Warna Tak Cepat Pudar</title><content type='html'>— Ini mengingat warna alam pada batik tulis tersebut sama sekali tidak menggunakan zat-zat kimia dalam pewarnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Kain batik tulis yang pewarnaannya menggunakan hasil rebusan dari berbagai tumbuhan, terutama dari bagian kulit pohon, akar dan daun itu memang memerlukan penanganan khusus. Di sini untuk warna hijau pada motif batik, misalnya, digunakan warna hasil rebusan daun mangga, adapun akar mengkudu menghasilkan warna merah muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Untuk merawat kain batik tulis dengan pewarna alami, caranya antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mencuci kain batik dengan menggunakan sampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu sampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kain batik tulis jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Cara mencuci kain batik seperti ini akan membuat warna alami kain batik tak bertahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik tulis berpewarna alami di bawah sinar matahari langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Masih dengan koran menutupi kain, Anda bisa menyetrika kain batik berpewarna alami tersebut. Jangan menyetrika langsung pada kainnya karena ini bisa memengaruhi warna motifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (ETA) Kompas cetak, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-1256995613324790295?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/1256995613324790295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/agar-warna-tak-cepat-pudar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1256995613324790295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1256995613324790295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/agar-warna-tak-cepat-pudar.html' title='Agar Warna Tak Cepat Pudar'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-1973703349362875303</id><published>2009-11-07T10:12:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:16:28.166-08:00</updated><title type='text'>Yogyakarta, Daerah Batik yang Dijajah Produk Luar</title><content type='html'>Para pedagang di kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo menjadi salah satu saksi bahwa batik Yogya belum bisa menjadi “raja” di wilayah sendiri. Mereka mengaku enggan menjual batik Yogya karena motifnya yang terlalu berorientasi pada pakem-pakem tradisional dengan corak atau desain yang kurang memenuhi selera pasar. Bahkan, cenderung terasa monoton, hingga berkesan tak memberi ruang bagi dinamika motif. Oleh Boni Dwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, berbicara tentang produk batik maka juga harus berbicara tentang prospek pasarnya. Apabila ingin tetap bertahan, tampaknya para produsen batik Yogyakarta perlu berupaya keras agar bisa keluar dari citra tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, menurut Budi Suhendar (34), salah seorang pedagang batik di Pasar Beringharjo, Senin (15/5), hal itu bukan berarti ada keharusan menghilangkan citra tradisional batik Yogya. Sebagian konsumen masih tetap ada yang fanatik dengan nuansa tradisional. “Hanya saja, desainnya jangan monoton. Selama ini, produk batik Yogya selalu terbatas pada jarit, selendang, dan batik prada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan batik Pekalongan dan Solo, yang bisa membuat desain kaus santai, hem santai, celana pendek santai. Coba buat desain seperti itu, dengan motif atau corak tradisional, saya jamin pasti laku,” kata Budi yang sudah 20 tahun menjadi penjual batik itu. Kalangan muda Dari kalangan produsen dan toko batik di Yogya sendiri, kesadaran untuk mengembangkan desain batik terutama dilatarbelakangi perubahan gaya hidup manusia modern dibandingkan masa sebelumnya, khususnya di kalangan kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, tujuan yang ingin diraih adalah jangan sampai batik kehilangan pamor, generasi penerus, dan dilupakan. “Batik tidak sekadar kain sarung, jarit, atau selendang, tetapi juga baju kerja dan baju santai bagi seluruh kalangan. Jangan sampai batik hilang pamor di negeri produsen batik sendiri,” ujar Sodikin, Direktur Batik Pertiwi. Indah Widiarti, Manager Batik Margaria Grup, mengatakan pengembangan desain itu digarap secara serius di tengah optimisme bahwa batik tetap akan digemari oleh sejumlah kalangan di masyarakat dari waktu ke waktu. Sebab, menurut dia, batik sebagai sesuatu yang unik tetapi asli, malah akan dicari orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keduanya menyadari tidak mudah melepaskan anggapan bahwa batik itu berkaitan dengan sesuatu yang formal, resmi, dan berkaitan denga pakem-pakem tertentu, demi memperoleh orisinalitas sebuah produk batik. Apalagi, kondisi semacam itu sudah berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama, berpuluh-puluh tahun. Untuk itu, mereka harus melakukan kompromi antara pakem dengan selera pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompromi “Kompromi itu mencakup warna, motif, model, serta material yang digunakan. Semuanya digabung menjadi satu konsep khusus mode batik untuk kaum muda,” kata Indah. Sesuai segmen yang dibidik Margaria, yakni kelas menengah-atas, kata Indah, maka warna yang dipilih biasanya adalah warna-warna lembut dengan motif tabur, seperti bunga-bunga kecil, yang lebih menonjol. Material yang dipilih pun lebih banyak berbahan katun maupun paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sodikin dari Pertiwi Grup juga mengaku fokus pada penciptaan desain- desain yang lebih menarik bagi kaum muda, misalnya desain produk batik yang asimetris. Desain batik asimetris itu merupakan desain relatif baru yang lain dari pakem selama ini, di mana batik selalu simetris. Sejak sekitar lima tahun terakhir, pergerakan pasar batik di Yogyakarta justru didominasi oleh batik asal Pekalongan dan Solo. Muncul sebuah anekdot yang cukup ironis dari salah satu pedagang di Pasar Beringharjo, bahwa batik Yogya belum bisa menjadi raja di wilayah sendiri. “Kesannya, Yogya itu sedang terjajah oleh batik luar Yogya. Ini kan lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Yogya juga terkenal dengan produk batiknya,” ujar Harni, produsen dan pedagang batik di wilayah Ngasem. Seretnya perkembangan batik Yogya, salah satunya disebabkan kurang inovatifnya para produsen dalam menampilkan desain dan motif. Mungkin, perlu ada semacam “pemberontakan” terhadap pakem yang selama ini telanjur dianggap mapan. Entah apa pun bentuknya, yang jelas itu berawal dari keinginan bahwa batik Yogyakarta tidak boleh tenggelam ditelan zaman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : (Pramudyanto dan Benny Dwi Koestanto) Harian Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-1973703349362875303?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/1973703349362875303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/yogyakarta-daerah-batik-yang-dijajah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1973703349362875303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/1973703349362875303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/yogyakarta-daerah-batik-yang-dijajah.html' title='Yogyakarta, Daerah Batik yang Dijajah Produk Luar'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-6990564713874841250</id><published>2009-11-07T10:10:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:12:16.367-08:00</updated><title type='text'>Fakta tentang batik</title><content type='html'>Klaim dari negara tetangga yang mengaku bahwa batik adalah warisan budaya leluhurnya membuat banyak masyarakat Indonesia seperti kebakaran jenggot. Beranjak dari kejadian diatas maka banyak pecinta batik berusaha menjadikan batik agar tetap diminati dan dicintai oleh masyarakat Indonesia. Salah satu caranya adalah denegan memasukkan unsusr unsur tradisional batik menjadi sebuah tren fashoin yang modern, dinamis dan fashionable, tetapi tentu saja tetap melestarikan kebudayaan asli bangsa Indonesia. Upaya itu ternyata cukup membuahkan hasil. Akhir akhir ini sering kita jumpai para kawula muda maupun orang orang tua beramai-ramai mengenakan batik, mulai menghadiri acara yang super resmi dan sangat formal hingga acara acara hang-out dengan teman-teman, serta acara jalan jalan dengan teman maupun keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dengan diakuinya batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia oleh Unesco pada tanggal 2 oktober 2009 kemarin, maka semakin banggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan khasanah budaya nusantara, dan untuk masyarakat Indonesia selayaknyalah kita cintai dan lestarikan batik indonesia. Dan bergaya dengan batik yang dinamis dan elegan diberbagai acara ada ditangan kita semua.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber = http://batiktulismadura.com/v1/artikel-batik-tulis-madura/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-6990564713874841250?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/6990564713874841250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/fakta-tentang-batik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6990564713874841250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6990564713874841250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/fakta-tentang-batik.html' title='Fakta tentang batik'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-4263655991651296268</id><published>2009-11-07T10:05:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:08:06.128-08:00</updated><title type='text'>Batik Indonesia, Kebudayaan Asli Yang Kurang Terjaga</title><content type='html'>umat, 13-04-2007 13:54:11 oleh: Retty N. Hakim&lt;br /&gt;Kanal: Gaya Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Senin, 9 April 2007, mantan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Joop Ave memperkenalkan buku Grand Batik Interiors di Jakarta. Menurut harian Kompas  (Nama dan Peristiwa) 12 April 2007 ketertarikan ini bermula sejak beliau ditugaskan sebagai konsul di New York 45 tahun yang lalu. Dengan buku ini beliau ingin mengembangkan manfaat ekonomi lain dari batik, yakni sebagai produk interior. Beliau ingin orang-orang muda yang tampaknya kurang mengapresiasi batik, dapat menyenangi dan mengapresiasi batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik, menurut Wikipedia  berasal dari kata Jawa amba(menulis) dan titik (juga berarti titik dalam bahasa Indonesia). Selain itu ada juga yang mengartikannya sebagai menghamba pada titik. Memang titik merupakan desain dominan pada batik. Di Museum Nasional dapat kita lihat detail motif batik pada penggambaran kain pada patung-patung batu yang berasal dari abad ke 8 (contoh patung patung  yang berasal dari candi Prambanan) maupun pada patung-patung yang berasal dari abad ke 13 (Singosari) dan abad ke 14 (Majapahit). Walaupun demikian penulisan pertama tentang pembuatan batik di Jawa berasal dari pencatatan keraton di Jawa Tengah pada abad ke 16 (Aspects of Indonesian Culture).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik dasar batik (dye resistance pattern) menurut info berasal dari Mesir sekitar 1500 tahun yang lalu. Di Museum Nasional terdapat juga kendi China yang dibuat dengan mencoba mempraktekkan teknik membatik ini pada keramik. Tapi percobaan pada kain tampaknya lebih berhasil di Jawa. Dari namanya saja sudah jelas asal tempat yang membesarkan nama batik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkembangan perdagangan kain di Jawa maka masuklah kain dari India pada sekitar tahun 1800 dan dari Eropa pada sekitar tahun 1815. Karena menggunakan kain yang lebih berkualitas maka perkembangan batik Jawa semakin pesat dan semakin terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mattiebelle Gittinger yang meneliti tekstil di Indonesia dalam tulisannya di Arts of Asia (September – Oktober 1980) menyebutkan bahwa pemakaian teknik dasar membatik yang menggunakan lilin ini mungkin berasal dari Cina dan India, tapi semua alat membatik dan proses pembatikannya merupakan sesuatu yang khas Jawa. Canting adalah alat penulisan batik yang ditemukan oleh orang Jawa dan menunjukkan kepandaian yang tinggi dari nenek moyang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut Gittinger orang Belanda pada abad ke 17 mulai memperdagangkan batik dan pada abad ke 19 mulai menghasilkan tekstil pabrik bermotif batik yang kemudian diperdagangkannya ke Afrika Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hasil artistik yang bernilai tinggi ini menurut para ahli, kurang diperhatikan pemerintah. Bahkan seorang Malaysia menyanjung kepedulian pemerintahnya pada perkembangan batik Malaysia, dengan mengutip harian Jakarta Post yang membahas mengenai perbandingan perkembangan batik Indonesia dengan Malaysia yang sebenarnya menggunakan pekerja dari Indonesia. Kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan batik memang tersorot pada tahun 2005 karena ternyata Malaysia terlebih dahulu mematenkan batik seperti yang tertulis di harian Republika. Memang persoalan paten ini menurut harian Kompas banyak yang tidak tahu, dan cukup sulit memperjuangkan pengakuan hak kekayaan tradisi budaya. Perhatian Malaysia pada hak paten memang lebih tinggi, dan promosi mereka terhadap batik Malaysia cukup besar, seperti yang terlihat pada perangko Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal batik sebenarnya mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi. Motif batik Parang Rusak misalnya, sebenarnya termasuk motif batik sakral yang hanya dipergunakan di lingkungan kraton. Demikian juga warna batik pada motif parang bisa menentukan asal kraton pemakainya, apakah dari Kraton Solo atau dari Kraton Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membawa arti simbolis, mengamati batik juga memperlihatkan kekayaan budaya serapan Indonesia. Di Museum Nasional kita bisa melihat perbedaan antara batik pesisir yang terpengaruhi oleh budaya Cina, budaya Islam, maupun pengaruh pendudukan Belanda yang memang pada waktu itu juga menghasilkan batik Belanda (berasal dari pabrik yang dimiliki oleh orang Belanda di Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana kita bisa ikut membantu menjaga warisan yang bernilai budaya dan sejarah ini? Beberapa orang sudah memulainya, dalam hal produksi selain pabrik pabrik besar dan kecil, ada juga desainer seperti Iwan Tirta, Harry Dharsono, dan Obin. Sekarang ada Joop Ave yang mengajak anda melihat batik sebagai elemen interior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak paten desain batik kita juga perlu diperhatikan, diperlukan bantuan pemerintah terhadap pengusaha kecil yang mungkin tidak tahu menahu mengenai hak cipta. Tidak lucu kalau suatu hari ada pembatik yang dituntut karena menggunakan desain batiknya yang sudah dipatenkan negara lain. Sementara itu bagaimana dengan pemasarannya? Sudahkah kita mengenakan batik dengan bangga? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Aspects of Indonesian Culture – Indonesian Heritage Society.Indonesian Textile– Mattiebelle Gittinger (Arts of Asia, part of the Indonesian Heritage Society Volunteer Tour Guides’ Training Workshop materials)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber=&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=2056&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-4263655991651296268?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/4263655991651296268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-indonesia-kebudayaan-asli-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4263655991651296268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/4263655991651296268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik-indonesia-kebudayaan-asli-yang.html' title='Batik Indonesia, Kebudayaan Asli Yang Kurang Terjaga'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-312749110608859425</id><published>2009-11-07T09:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T09:44:58.586-08:00</updated><title type='text'>Batik</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;BATIK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxM6zgt5I/AAAAAAAAAOQ/iSgY6J1iS1Q/s1600-h/120px-Batik_Lasem%27-_Lasem-_tulis-_mixed_dye.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 90px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxM6zgt5I/AAAAAAAAAOQ/iSgY6J1iS1Q/s200/120px-Batik_Lasem%27-_Lasem-_tulis-_mixed_dye.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401418163602634642" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxMuZCckI/AAAAAAAAAOI/QDQR9fhjkaM/s1600-h/120px-Batik_Jawa_Hokokai-_Pekalongan-_tulis-_mixed_dye.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 90px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxMuZCckI/AAAAAAAAAOI/QDQR9fhjkaM/s200/120px-Batik_Jawa_Hokokai-_Pekalongan-_tulis-_mixed_dye.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401418160270373442" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxMSrepnI/AAAAAAAAAOA/DGUHt8YN53o/s1600-h/180px-Skirt_from_Cirebon,_Java,_early_20th_century,_coton,_%27tulis%27_batik.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxMSrepnI/AAAAAAAAAOA/DGUHt8YN53o/s200/180px-Skirt_from_Cirebon,_Java,_early_20th_century,_coton,_%27tulis%27_batik.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401418152831526514" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxMGS5rOI/AAAAAAAAAN4/kFEN-QkyDyQ/s1600-h/180px-Raden_Adjeng_Kartini.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxMGS5rOI/AAAAAAAAAN4/kFEN-QkyDyQ/s200/180px-Raden_Adjeng_Kartini.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401418149507214562" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxL-m8CjI/AAAAAAAAANw/V4LJy70Vd9k/s1600-h/250px-Niya_batik.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxL-m8CjI/AAAAAAAAANw/V4LJy70Vd9k/s200/250px-Niya_batik.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401418147443771954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;         Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etimologi&lt;br /&gt;Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah teknik batik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya batik&lt;br /&gt;Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak batik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragam cor&lt;br /&gt;ak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju Batik di Indonesia&lt;br /&gt;Setiap hari Kamis, semua pegawai negeri lelaki di Malaysia diharuskan memakai baju batik Malaysia mulai 17 Januari 2008. Ketua Pengarah Jabatan Perkhidmatan Awam Tan Sri Ismail Adam telah membagikan kepada semua jabatan kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ini peraturan memakai baju batik hanya pada hari Sabtu saja. Kemudian diubah kepada hari ke-1 dan hari ke-15 setiap bulan. Tetapi banyak yang melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pembuatan&lt;br /&gt;Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis batik&lt;br /&gt;Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.&lt;br /&gt;Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.&lt;br /&gt;batik saring,&lt;br /&gt;batik celup,&lt;br /&gt;batik terap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-312749110608859425?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/312749110608859425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/312749110608859425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/11/batik.html' title='Batik'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7XDQNIOrOhg/SvWxM6zgt5I/AAAAAAAAAOQ/iSgY6J1iS1Q/s72-c/120px-Batik_Lasem%27-_Lasem-_tulis-_mixed_dye.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-5034884659058463803</id><published>2009-10-08T03:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-08T04:07:33.795-07:00</updated><title type='text'>Batik dulu dan kini</title><content type='html'>&lt;p&gt;Senin, tanggal 5 Oktober 2009 diambil dari Koran Tempo&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Puluhan lembar kain batik dengan berbagai motif menyupan lobi, hall, dan sweet room di HOtel Heritage Candi Indah. Semarang, menjadi ruang pameran 'tidak hanya dipasang di dinding, lembaran kain berukuran persegi panjang itu juga digantugn di atas pawangan. warna-warni kain batin menambah semarak ruangan hotel tua yang dibangun awal tahun 1900.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tanggal 2 sampai 5 Oktober, Paguyuban pencinta batik bokor kencono semarang dan PT Sido Muncul menggelar  pameran batik bertajuk 'batik Indonesia dulu dankini'. Pameran digelar dalam rangka menyambut keputusan UNIted Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization, yang menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia pada tanggal 2 Oktober lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pada pameran ini, kita bisa menikmati aneka motif batik dari berbagai daerah. tidak hanyabatik dari Pekalongan, Solo, Yogyakarta, dan Madura yang memang menjadi sentra perbatikan, tapi juga batik dari daerah lain, seperti Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Kebumen, Banjarnegara, Lasem, Semarang dan Tuban.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pameran ini lebih dikhususkan pada perkembangan batik kekinian batik yang menjadi produk massal yangberkembang di pasar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Mayasari Sekarlaranti, dari Paguyuban Bokor Kencono, saat ini batik tak hanya menjadi supremasi busana kalngan elit yang hanya dilukis pada kain sutera. kini batik menjadi busana yang bisa menembuhs semua kalangan, yang tak lagiharus dibuat pada lembaran sutra. perajin dan industri batikberhasil melakukan revitalisasi, sehingga keberadaaannya mampu menembus semua kalangan, ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;meski telah mengalami revitalisasi baik dari makna filosofis maupun teknis produksi, secara umum corak batik yang berkembang saat ini tak jauh berbeda dengan batik zaman dulu, yakni terbagi menjadi tiga kelompok klasik, lingkungan, dan merak.  Lereng, ceplok, tambal dan jagadan merupakan motif batik klasik. motif ini dikenal hampir di seluruh daerah. yang membedakan hanyalah variasi dan warnanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pada motif lereng di antara lerengnya (garis miring) terdapat hiasan daun dan bunga berwarna biru, hijau, kuning, dan putih. sedangkan pada batik lerengan dari Lasem, pada lerengnya terdapat hiasan selang seling truntum dan ukel. sementara lereng Pekalongan berbentuk garis lurus, lereng Lasem berbentuk garis lengkung. warna yang digunakan pada motif lereng lasem adalah biru muda dan putih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-5034884659058463803?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/5034884659058463803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/10/batik-dulu-dan-kini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5034884659058463803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/5034884659058463803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/10/batik-dulu-dan-kini.html' title='Batik dulu dan kini'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-3385357680300374992</id><published>2009-09-14T11:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T11:39:00.795-07:00</updated><title type='text'>ISTILAH DUNIA PERBATIKAN</title><content type='html'>Batik: berasal dari bahasa Jawa: amba, yang berarti lilin atau malam, dan nitik, yang berarti menorehkan. batik merujuk pada teknik pembuatan corak-menggunakan canting atau cap -dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna.&lt;br /&gt;Pengobeng: pembatik atau tukang membuat batik.&lt;br /&gt;Canting: alat untuk membatik. semacam alat tulis khusus untuk menuliskan cairan lilin.&lt;br /&gt;Cap: rangka kuningan berbingkai yang ditatah dengan pola batik. alat ini dipakai untuk mengecapkan malam pada kain.&lt;br /&gt;Caret: pipa  kecil ujung canting sebagai jalan cairan lilin untuk membatik.&lt;br /&gt;cecekan: titik-titik kecil bekas membatik dengan canting bercucuk kecil.&lt;br /&gt;cucuk: ujung canting yang mirip paruh unggas.&lt;br /&gt;malam atau lilin: lilin khusus untuk membatik.&lt;br /&gt;angio atau keren: tungku atau perapian kecil untuk memanaskan malam.&lt;br /&gt;ngengreng: membatik tahap pertama, membuat kerangka batikan.&lt;br /&gt;batikan: kain mori yang telah diberi pola dengan cairan  malam.&lt;br /&gt;Klowongan: batik tahap pertama, baru merupakan kerangka, masih kosong.&lt;br /&gt;nerusi: membatik di sebelah muka lain, bersifat mempertebal batikan semula.&lt;br /&gt;isen-isen: motif yang berfungsi sebagai pengisi bidung dalam batik.&lt;br /&gt;mbabar: memberi warna biru pada batik.&lt;br /&gt;blirikan: kain yang akan dicelup, bagian-bagian gambarnya telah ditutup dengan cairan malam.&lt;br /&gt;bluduk: menghancurkan retakan malam yang melekat pada kain.&lt;br /&gt;nglunsur: mencelup sampai cairan malam terlepas.&lt;br /&gt;dikemplang: dikeringkan di bawah terik matahari&lt;br /&gt;dikemplong: dipukuli supaya lemas dan mengembang benangnya agar cairan lilin mudah meresap&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-3385357680300374992?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/3385357680300374992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/09/istilah-dunia-perbatikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/3385357680300374992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/3385357680300374992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/09/istilah-dunia-perbatikan.html' title='ISTILAH DUNIA PERBATIKAN'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1838380280674326256.post-6483072072861008901</id><published>2009-09-14T11:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T11:37:52.415-07:00</updated><title type='text'>PROSES MEMBATIK</title><content type='html'>Beda cara atau teknik, beda kualitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang tahu secara pasti darimana bangsa Indonesia mengenal proses membatik, yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun. hanya ada yang menduga batik Indonesia dipelajari dari Sumeria, yang dibawa oleh para pedagang India. HIngga kini dikenal tiga proses pembuatan batik, yaitu batik tulis, cap, dan  print. tapi batik print atau cetak oleh para seniman batik dan pengrajin batik lebih suka disebut kain bermotif batik. hal ini lantaran minimnya usaha yang dilakukan dan begitu massalnya produk yang bisa dihasilkan. sementara itu, batik tulis dan cap dianggap orisinal karena penggunaan lilin atau malam sebagai media perintang warna, hingga hampirseluruh prosesnya dengan tangan manusia.Batik tulis dan cap juga hanya diterapkan pada bahan dari serat alami, seperti katun, sutra dan wol. tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATIK TULIS&lt;br /&gt;1. kain dilukis menggunakan canting, semacam alat dari tembaga untuk menampung malam dengan ujung berbentuk pipa kecil sebagai jalan keluarnya malam. cairan lilin meresap pada serat kain.&lt;br /&gt;2. kain lalu dicelup dengan warna yang dimulai dengan warna-warna muda, dilanjutkan dengan warna lebih tua atau gelap. &lt;br /&gt;3. setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke campuran air mendidih dan abu soda untuk melarutkan lilin.&lt;br /&gt;4. tahap selanjutnya adalah mencucian. Bila menggunakan pewarna alami. pencucian tidak bisa menggunakan detergen karena akan merusak warna. kain lalu diangin-anginkan agar warnanya tidak pudar.&lt;br /&gt;5. pada batik tulis, bentuk gambar lebih luwes dan tidak ada pengulangan yang jelas. ukuran motif juga relatif bisa lebih kecil dibandingkan batik cap.&lt;br /&gt;6. gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain dan tampak lebih rata.&lt;br /&gt;7. warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif.&lt;br /&gt;8.setiap ragam hias yang diulang pda lembar kain biasanya tida kakan pernah sama bentuk dan ukurannya.&lt;br /&gt;9. waktu pembuatan relatif lebih lama. bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan.&lt;br /&gt;10. harga jual relatif lebih mahal, karena kualitas biasanya lebih baik, mewah dan unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATIK CAP&lt;br /&gt;1. menggunakan cap atau alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki. alat cetak ini leibh mahal daripada canting.&lt;br /&gt;2. selalu da pengulangan gambar yang jelas dengan bentuk yang sama dengan ukuran motif relatif lebih besar dibanding batik tulis.&lt;br /&gt;3. gambar biasanya tidak tembus di kedua sisi kain.&lt;br /&gt;4. warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya.&lt;br /&gt;5. waktu pengerjaan relatif lebih singkat dibandingkan dengan batik tulis, antara lain hingga tiga minggu.&lt;br /&gt;6. harga jual relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, karena produksinya massal, tidak unik, dan tidak istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATIK PRINT ATAU CETAK&lt;br /&gt;1.jenis batik yang baru tapi menghasilkan hasilproduksi terbanyak dibandingkan batik tulis dan cap.&lt;br /&gt;2. teknik hampir sama dengan proses sablon dengan menggunakan kasa atau klise untuk mencetak motif batik.&lt;br /&gt;3. proses pewarnaan sama dengan proses pembuatan tekstil, yaitu menggunakan pasta yang dicampur pewarna tertentu, kemudian dicetakkan sesuai dengan motif yang telah dibuat.&lt;br /&gt;4. perkembangan terbaru muncul berupa perpaduan teknik print dan batik. pasta diganti dengan malam. setelah malam menempel, proses selanjutnya sama seperti batik tulis dan cap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sumber: koran tempo, 13 September 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1838380280674326256-6483072072861008901?l=000batik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://000batik.blogspot.com/feeds/6483072072861008901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/09/proses-membatik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6483072072861008901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1838380280674326256/posts/default/6483072072861008901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://000batik.blogspot.com/2009/09/proses-membatik.html' title='PROSES MEMBATIK'/><author><name>000WEBPRO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
